Konsekuensi Bebas Aktif, Presiden: Kita Tidak Ikut Pakta Militer, Kita Harus Kuat Sendiri

Presiden Prabowo Subianto secara resmi membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026/YT

Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan keras mengenai realitas geopolitik yang dihadapi Indonesia. Ia menegaskan, pilihan Indonesia untuk setia pada politik luar negeri bebas aktif memiliki harga mahal: Indonesia harus siap bertarung sendirian jika kedaulatan negara terancam.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Selasa (3/2).

Prabowo mengingatkan, karena Indonesia tidak tergabung dalam pakta pertahanan atau aliansi militer manapun, tidak ada jaminan negara lain akan mengirim bantuan militer saat Indonesia diserang.

“Kalau kita sungguh-sungguh mau nonblok, kalau kita sungguh-sungguh mau tidak terlibat dalam pakta, kalau kita sungguh-sungguh mau bersahabat sama semua, berarti kita sendiri,” ujar Prabowo di hadapan ribuan pejabat pusat dan daerah.

“Kalau kita diancam, kalau kita diserang, tidak akan ada yang bantu kita Saudara-saudara. Percaya sama saya, nobody going to help us,” tegasnya.

Hukum Rimba: Yang Kuat Berkuasa

Berkaca pada risiko tersebut, Prabowo kembali menggaungkan pesan para pendiri bangsa. Ia mengutip Presiden Soekarno yang menekankan pentingnya Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari), serta pesan Panglima Besar Jenderal Sudirman agar bangsa ini percaya pada kekuatan sendiri.

Mantan Menteri Pertahanan ini menekankan bahwa Indonesia “mau tidak mau” harus menjadi negara kuat. Pasalnya, dinamika global saat ini menunjukkan wajah dunia yang kejam, di mana hukum rimba masih berlaku.

“Dunia ini adalah keadaan nyata, bukan keadaan ideal. Saya selalu mengingatkan, mengajarkan, yang berlaku di dunia ini sekarang adalah: yang kuat akan berbuat apa yang mereka kehendaki, yang lemah akan menderita. Itu yang kita lihat hari ini,” paparnya.

Senyum Meski Hati Bergolak

Prabowo juga berbagi sisi emosional dalam menjalankan diplomasi negara. Ia mengakui bahwa menjalankan politik “bersahabat dengan semua negara” (good neighbor policy) seringkali menuntut kesabaran ekstra.

Demi kepentingan nasional dan keselamatan rakyat, seorang pemimpin seringkali harus menahan ego meskipun situasi memanas.

“Kadang-kadang hati kita bergolak, tetapi kita harus senyum. Karena kita sudah memilih akan baik sama semua, untuk melindungi rakyat kita,” tutur Prabowo.

Ia mengakui hal tersebut mudah diucapkan sebagai teori, namun berat saat dilaksanakan di lapangan. Namun, jalan tersebut harus ditempuh agar Indonesia tidak terseret dalam konflik yang merugikan rakyat.