Film “Dear You” Picu Debat di Singapura, Bahasa Teochew Kembali Jadi Sorotan

Film Dear You/IMDb

Generasi.co, SINGAPURA – Film berbahasa Teochew berjudul Dear You memicu perdebatan baru di Singapura mengenai nasib bahasa-bahasa dialek Tionghoa yang kian terpinggirkan setelah puluhan tahun kampanye pemerintah mendorong penggunaan Mandarin.

Dilansir melalui BBC News, film yang menjadi kejutan di box office China itu sebagian besar menggunakan bahasa Teochew, salah satu dialek dari wilayah Chaoshan, China, yang masih dipakai oleh sebagian generasi tua keturunan Tionghoa di Asia Tenggara.

Namun ketika Dear You mulai tayang di bioskop Singapura bulan ini, banyak penonton kecewa karena sebagian besar pemutarannya justru menggunakan sulih suara Mandarin. Hanya delapan penayangan khusus yang mempertahankan bahasa Teochew asli dan tiketnya dilaporkan habis terjual dalam waktu kurang dari dua jam.

“Sebagai orang Teochew, menontonnya dalam bahasa Teochew membuat pengalaman itu jauh lebih istimewa,” kata pekerja gereja, Wu Silin, yang menyaksikan film tersebut bersama ibunya.

Gelombang protes di media sosial pun bermunculan. Banyak warga mempertanyakan mengapa film tersebut diputar dalam bahasa aslinya di China, tetapi tidak di Singapura, tempat komunitas penutur Teochew masih cukup banyak, terutama di kalangan lansia.

Pemerintah Singapura akhirnya merespons desakan tersebut. Kementerian Informasi Singapura menyatakan pihaknya mendengar seruan agar film-film dialek dapat diputar lebih bebas di bioskop dan berjanji akan mengambil pendekatan yang lebih fleksibel.

Permintaan terhadap versi asli film itu terus meningkat. Delapan penayangan tambahan yang menyediakan hampir 5.000 tiket kembali habis dalam waktu kurang dari dua jam. Pada Kamis, otoritas menyetujui 50 penayangan tambahan dalam bahasa Teochew.

Film Dear You sendiri mengisahkan seorang pemuda dari desa di China selatan yang pergi ke Thailand untuk mencari kakeknya. Sang kakek meninggalkan kampung halamannya pada 1948 untuk menghindari wajib militer saat perang saudara dan kemudian hidup sebagai pengayuh becak di Thailand.

Latar cerita tersebut menyentuh banyak warga Singapura karena berkaitan dengan gelombang migrasi besar-besaran orang China ke Asia Tenggara, termasuk ke Singapura, pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

Profesor studi China dari National University of Singapore, Lee Cher Leng, mengatakan dialek selama ini menjadi akar identitas masyarakat Tionghoa Singapura.

“Dialek selalu menjadi akar asal-usul masyarakat Tionghoa Singapura. Mandarin, menurut saya, lebih merupakan bahasa yang dipelajari di sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, menarik bahwa sebuah film beranggaran kecil justru mampu memunculkan perdebatan yang begitu besar mengenai identitas budaya.

Bahasa-bahasa dialek seperti Teochew, Hokkien, Kanton, dan Hakka sebenarnya pernah digunakan secara luas oleh komunitas Tionghoa Singapura yang mencakup lebih dari 70 persen populasi negara itu.

Namun pada 1980-an, pemerintah meluncurkan kampanye Speak Mandarin yang mendorong warga keturunan Tionghoa menggunakan Mandarin sebagai bahasa bersama. Sejak saat itu, penggunaan dialek perlahan menghilang dari siaran radio, televisi, dan bioskop.

Data menunjukkan hampir 70 persen warga Singapura pernah menggunakan salah satu dialek Tionghoa di rumah ketika kampanye tersebut dimulai. Pada 2020, angkanya merosot menjadi hanya 8,7 persen.

Anggota parlemen oposisi Dennis Tan menyebut dialek sebagai “gudang hidup yang menyimpan perjalanan, adat, dan identitas para leluhur.”

Meski minat generasi muda untuk mempelajari bahasa leluhur mulai tumbuh kembali, sejumlah akademisi pesimistis tren tersebut mampu membalikkan penurunan penggunaan dialek.

Profesor dari Nanyang Technological University, Tan Ying Ying, menilai bahasa dapat dipelajari seperti bahasa asing, tetapi sulit dipertahankan apabila tidak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau tidak ada yang berbicara menggunakan bahasa itu, Anda tidak akan bisa mempertahankannya,” katanya.