JAKARTA, Generasi.co — Seni pertunjukan kembali membuktikan tajinya sebagai medium refleksi sejarah yang kuat. Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono, mengaku sangat terinspirasi usai menyaksikan pementasan teater monoplay bertajuk Melati Pertiwi.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ferry membagikan kesan mendalamnya terhadap karya seni yang mengangkat napak tilas heroisme para srikandi bangsa tersebut. Menurutnya, pementasan ini adalah alarm pengingat bagi generasi muda tentang peran sentral perempuan dalam memerdekakan Indonesia.
“Saya sangat terinspirasi setelah menyaksikan monoplay Melati Pertiwi. Kisah yang ditampilkan mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki andil besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia,” tulis Ferry Juliantono, dikutip Senin (9/3/2026).
Menghidupkan Kembali Lintas Generasi Pahlawan Perempuan
Ferry menyoroti keberhasilan pertunjukan tersebut dalam menghadirkan jejak perjuangan deretan tokoh perempuan luar biasa dari berbagai era pergolakan. Penonton diajak menyelami keberanian tokoh-tokoh sentral yang mewakili fase perlawanan fisik hingga era pergerakan kebangsaan, antara lain:
- Laksamana Malahayati & Nyi Ageng Serang: Simbol ketangguhan dan perlawanan fisik bersenjata di garis depan.
- Christina Martha Tiahahu: Representasi keberanian pemuda dari Timur Indonesia yang tak kenal takut.
- Rasuna Said & S.K. Trimurti: Wajah pergerakan intelektual kebangsaan melalui ketajaman pemikiran, politik, dan jurnalisme.
3 Nilai Luhur Pementasan Menurut Ferry Juliantono
Besarnya muatan moral dan historis dalam pertunjukan ini membuat Menkop mendorong agar Monoplay Melati Pertiwi tidak berhenti pada satu panggung saja. Ia merekomendasikan agar teater ini dipentaskan secara lebih luas dan masif untuk menebar semangat revolusioner.
“Saya bahkan menyarankan agar pertunjukan ini dapat kembali dipentaskan lebih luas. Saya yakin kisah ini akan menghadirkan inspirasi revolusioner bagi kita semua,” tegas Ferry.
Berdasarkan kacamata sang Menteri, ada tiga nilai esensial yang berhasil ditransformasikan dari panggung Melati Pertiwi kepada para penontonnya:
- Keimanan yang Kokoh: Menjadi fondasi spiritual para pahlawan di tengah tekanan penjajah.
- Keberpihakan pada yang Lemah: Wujud nyata dari keadilan sosial dan pembelaan terhadap rakyat kecil.
- Cinta Kebangsaan yang Besar: Dedikasi dan pengorbanan tanpa pamrih demi kedaulatan Ibu Pertiwi.
“Para tokoh perempuan ini bukan hanya besar dalam pemikiran, tetapi juga besar dalam gerakan dan langkah-langkah perjuangannya bagi bangsa,” pungkas Ferry mengakhiri ulasan apresiatifnya.










