Jakarta, Generasi.co — Gemuruh perang yang mengguncang Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir mulai memperlihatkan celah diplomasi, meski diiringi skeptisisme tinggi dari berbagai pihak. Di tengah saling serang antara proksi militer, rumor mengenai negosiasi rahasia antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama global.
Berikut adalah rangkuman perkembangan terkini eskalasi konflik Iran-AS dan sekutunya, dirangkum dari pantauan Live Mint per Selasa, 24 Maret hingga Rabu, 25 Maret 2026.
1. Jeda 5 Hari Trump dan Tudingan Manipulasi Pasar Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah mencapai “kesepakatan besar”. Sebagai tindak lanjut, Trump memerintahkan penangguhan serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Namun, laporan dari Semafor menegaskan bahwa jeda ini hanya berlaku untuk situs energi, sementara serangan militer akan tetap berlanjut.
Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, membantah keras adanya negosiasi. Ia menyebut klaim Trump hanyalah “taktik untuk memanipulasi pasar global”. Sikap keras ini didukung oleh komando militer tertinggi Iran yang bersumpah akan terus berperang hingga mencapai “kemenangan mutlak”.
2. Benarkah AS dan Iran Bertemu di Pakistan? Pakistan secara resmi menawarkan diri menjadi tuan rumah dialog antara AS dan Iran. Spekulasi menguat menyusul laporan kunjungan pejabat tinggi AS—Jared Kushner, Steve Witkoff, dan J.D. Vance—ke Islamabad pekan ini. Kendati demikian, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menolak mengonfirmasi agenda tersebut. Secara paralel, pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip oleh CBS News, membenarkan bahwa Teheran telah menerima proposal dari Washington dan saat ini tengah “mengkajinya”.
3. Sikap Keras Negara Arab: Arab Saudi dan UEA Terlibat? Konflik ini mulai menarik negara-negara Teluk lebih dalam. Wall Street Journal (WSJ) melaporkan bahwa Arab Saudi telah setuju memberikan akses militer AS ke Pangkalan Udara King Fahd. Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah tegas dengan menutup rumah sakit dan klub milik Iran di wilayahnya, memotong sumber dukungan logistik dan finansial utama bagi Teheran. Langkah ini mengindikasikan pergeseran peta geopolitik Timur Tengah yang semakin menyudutkan Iran.
4. Israel Tetap Lanjutkan Gempuran Militer Di tengah desas-desus diplomasi AS-Iran, Israel menegaskan posisinya. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengklaim bahwa Tel Aviv tidak dilibatkan dalam negosiasi apa pun.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersumpah bahwa operasi militer terhadap Iran dan proksinya di Lebanon (Hizbullah) akan terus berlanjut “dengan intensitas penuh”, terlepas dari potensi gencatan senjata AS. Israel dilaporkan telah melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap lebih dari 50 target di Iran, termasuk situs rudal balistik dan fasilitas intelijen di Isfahan dan Tabriz.
5. Lebanon Usir Duta Besar Iran Eskalasi merembet ke ranah diplomatik di Lebanon. Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Raggi, mendeklarasikan Kuasa Usaha Iran, Mohammad Reza Shibani, sebagai persona non grata. Sang duta besar diberi tenggat waktu hingga 29 Maret 2026 untuk angkat kaki dari wilayah Lebanon. Keputusan ini memicu kemarahan Hizbullah yang menyebutnya sebagai “dosa strategis nasional”.
Di lapangan, militer Israel berambisi mendorong batas kendali mereka di selatan Lebanon hingga ke Sungai Litani. Gempuran Israel telah menghancurkan infrastruktur vital dan memaksa sekitar 1,2 juta warga Lebanon mengungsi.
6. Respons Pasar Global dan Sikap Indonesia (India) Klaim negosiasi oleh Trump sempat meredakan kepanikan pasar keuangan global. Harga minyak mentah Brent anjlok 10,9% menjadi $99,94 per barel, turun dari puncaknya di dekat angka $120 pada pekan sebelumnya.
Secara internasional, negara-negara besar seperti Tiongkok dan India terus mendesak deeskalasi. Perdana Menteri India Narendra Modi menegaskan bahwa konflik ini telah “mengguncang ekonomi dunia” dan menekankan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai melalui diplomasi.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di Timur Tengah masih sangat cair. Tawaran diplomasi AS dibayangi oleh manuver militer Israel yang tak kenal kompromi dan sikap keras kepala faksi Garda Revolusi Iran (IRGC). Apakah “jeda 5 hari” ini akan menjadi jalan pembuka perdamaian atau sekadar masa konsolidasi sebelum badai yang lebih besar? Dunia masih menahan napas.










