Kronologi Lengkap ‘Skandal CoC’ Legislator Jember: Asyik Mabar dan Merokok Saat Bahas Nasib Kesehatan Rakyat

Kronologi Lengkap 'Skandal CoC' Legislator Jember: Asyik Mabar dan Merokok Saat Bahas Nasib Kesehatan Rakyat/X

JEMBER, Generasi.co — Ruang rapat paripurna yang seharusnya menjadi tempat adu gagasan demi nasib rakyat, berubah menjadi arena “Mabar” (Main Bareng) bagi Achmad Syahri Assidiqi. Anggota Komisi D DPRD Jember dari Fraksi Gerindra ini menjadi sorotan tajam setelah video dirinya asyik bermain game sambil merokok saat rapat resmi beredar luas.

Berikut adalah urutan peristiwa lengkap mulai dari jalannya rapat yang serius hingga permohonan maaf terbuka yang disampaikan Syahri setelah memicu kemarahan publik.

1. Senin, 11 Mei 2026: Rapat Krusial Membahas Wabah Campak

Segalanya bermula dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di Gedung DPRD Jember pada Senin siang. Agenda rapat ini sangat sensitif dan mendesak, yakni membahas penanganan wabah campak di Kabupaten Jember serta perkembangan Universal Health Coverage (UHC) atau jaminan kesehatan semesta.

Hadir dalam rapat tersebut sejumlah stakeholder penting, antara lain:

  • Dinas Kesehatan Kabupaten Jember.
  • Perwakilan dari 15 Puskesmas.
  • Dinas Sosial.
  • BPJS Kesehatan.

Di saat anggota dewan lainnya sedang mencecar mitra kerja terkait lambatnya penanganan kesehatan, Syahri justru tertangkap kamera memiliki “kesibukan” sendiri di bawah meja rapat.

2. Rekaman Bocor karena Rapat Terbuka

Satu hal yang tidak disadari oleh Syahri adalah status rapat tersebut yang bersifat terbuka untuk umum. Karena sifatnya yang transparan, sejumlah jurnalis dan aktivis media sosial diperbolehkan memantau jalannya rapat dari area media.

Saat kamera menyorot barisan kursi anggota dewan, Syahri terekam sedang asyik mengoperasikan ponselnya untuk bermain game strategi—yang diduga kuat adalah Clash of Clans (CoC). Tak hanya itu, di ruangan ber-AC tersebut, ia juga dengan santainya memegang rokok yang menyala di tangan kirinya, mengabaikan etika persidangan dan aturan bebas asap rokok di dalam gedung.

3. Viral dan Banjir Hujatan Netizen

Hanya dalam hitungan jam setelah video tersebut diunggah oleh aktivis lokal, rekaman berdurasi singkat itu langsung meledak di media sosial. Netizen geram karena Syahri dianggap tidak memiliki empati terhadap isu kesehatan masyarakat yang sedang dibahas.

Banyak warga Jember menyayangkan sikap Syahri, mengingat posisinya di Komisi D secara spesifik membidangi masalah kesejahteraan rakyat dan kesehatan. Kritikan pedas pun mengalir, menyebut tindakannya sebagai bentuk penghinaan terhadap mandat rakyat yang menggajinya.

4. Jumat, 15 Mei 2026: Panggilan Mahkamah Partai dan Permohonan Maaf

Imbas dari kegaduhan tersebut, DPP Partai Gerindra bergerak cepat. Syahri langsung dipanggil ke Jakarta untuk menjalani sidang pemeriksaan di Mahkamah Partai pada Jumat sore. Sebelum memasuki ruang sidang, Syahri akhirnya muncul ke publik untuk memberikan klarifikasi.

Dalam permohonan maaf resminya, putra dari mantan anggota DPR RI Fadil Muzakki Syah ini menyampaikan poin-poin berikut:

  • Mengaku Khilaf: Syahri menyebut tindakannya murni karena kekhilafan sebagai manusia biasa.
  • Alasan Usia Muda: Ia berdalih posisinya sebagai anak muda masih memiliki banyak kekurangan dan rasa ingin tahu yang salah tempat.
  • Permintaan Maaf Khusus: Selain kepada warga Jember, ia secara spesifik meminta maaf kepada Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, karena telah mencoreng nama baik partai.
  • Siap Disanksi: Syahri menyatakan siap menerima konsekuensi apa pun, baik dari internal partai maupun dari Badan Kehormatan DPRD Jember.

Nasib di Ujung Tanduk

Meski sudah meminta maaf, tekanan publik agar Syahri diberikan sanksi tegas tetap menguat. Pihak Mahkamah Partai Gerindra sendiri telah mengisyaratkan bahwa tindakan bermain game dan merokok saat membahas urusan nyawa rakyat (kesehatan) adalah pelanggaran etika berat yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kata maaf.

Ke depannya, publik Jember kini menanti apakah “kartu merah” akan benar-benar dikeluarkan oleh Partai Gerindra untuk mendisiplinkan kadernya tersebut atau hanya berakhir dengan teguran administratif semata.