Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono angkat bicara mengenai tudingan “anti-demokrasi” yang kerap dialamatkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Lewat unggahan reflektif di akun media sosial pribadinya, pria yang akrab disapa Mas Dar ini membedah perjalanan panjang Prabowo dalam sistem demokrasi Indonesia sebagai bukti nyata komitmen sang Presiden.
Sudaryono, yang telah mendampingi Prabowo sejak tahun 2010, menyebut bahwa menuduh Prabowo tidak paham sistem pemilihan bebas adalah kekeliruan besar.
Menelan “Pil Pahit” Tanpa Air Mata
Sudaryono mengenang masa-masa sulit saat Prabowo harus menempuh “jalan sunyi” sebagai oposisi selama bertahun-tahun. Ia menyoroti rentetan kekalahan dalam Pilpres 2009, 2014, dan 2019 sebagai ujian demokrasi yang paling berat.
“Kami terima pil pahit itu tanpa air mata. Tanpa menunjuk muka orang menuduh curang. Kami telan kekalahan, lalu kembali bekerja keras. Membangun partai pelan-pelan, menambah porsi di parlemen perlahan,” tulis Sudaryono, Rabu (13/5/2026).
Buktikan Diri Lewat Proses, Bukan Instan
Menurut Sudaryono, kesediaan Prabowo untuk terus ikut bertarung dalam pemilu berulang kali—meski harus jatuh berkali-kali—adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kedaulatan rakyat. Ia menegaskan bahwa membangun barisan kader dan membesarkan Partai Gerindra membutuhkan kesabaran ekstra yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang anti-demokrasi.
“Orang bilang beliau tak paham sistem pemilihan bebas. Saya tersenyum mendengarnya. Membangun barisan dengan keringat sendiri, membina kader, ikut pemilu berulang kali, kalah, lalu bangkit lagi,” lanjutnya.
Filosofi Pantang Menyerah
Di akhir pernyataannya, Sudaryono menekankan filosofi ketangguhan yang menjadi identitas Prabowo selama ini. Baginya, perjalanan Prabowo adalah contoh konkret cara bertarung secara tuntas di dalam sistem yang ada.
“Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Beliau menunjukkan cara bertarung sampai tuntas,” tegasnya.










