Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan tiba di Jakarta, Selasa (2/6/2026) malam, disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono. Kunjungan ini membuka agenda strategis kedua negara, mulai dari target perdagangan 10 miliar dolar AS hingga sejumlah isu keamanan global.
Menlu Sugiono menyebut Indonesia dan Turkiye sebagai dua negara sahabat yang kerap menunjukkan solidaritas dan berdiri berdampingan dalam memperjuangkan prinsip-prinsip bersama di level internasional.
Pada Rabu (3/6/2026), agenda pembahasan mencakup sejumlah sektor prioritas. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menerjemahkan kemauan politik para pemimpin kedua negara ke dalam langkah-langkah konkret.
Di bidang ekonomi, kedua pihak menargetkan volume perdagangan bilateral mencapai 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp 178,3 triliun. Pengembangan akan difokuskan pada sektor energi, infrastruktur, transportasi, digitalisasi, kecerdasan buatan, dan industri makanan halal.
Sektor pertahanan turut masuk dalam agenda, dengan peninjauan proyek-proyek yang sedang berjalan serta eksplorasi peluang kolaborasi baru. Kedua menlu juga dijadwalkan membahas situasi di Palestina (Gaza), konflik Rusia-Ukraina, dan perkembangan keamanan di Timur Tengah, Afrika, serta kawasan Asia-Pasifik.
Terkait Palestina, Indonesia dan Turkiye sepakat mempertahankan dialog erat demi mendorong perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Pertemuan Jakarta ini melanjutkan forum 2+2 antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara yang digelar di Ankara pada Januari 2026. Koordinasi Jakarta-Ankara kian intensif sejak pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan Presiden Recep Tayyip Erdogan pada awal 2025, terutama di sektor industri pertahanan dan perdagangan.
Sebagai dua negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan kekuatan ekonomi signifikan di kawasan masing-masing, Indonesia dan Turkiye kerap mengambil posisi serupa dalam isu-isu kemanusiaan global. Hubungan diplomatik keduanya telah berlangsung panjang dalam kerangka kemitraan strategis.










