Gaya Hidup dan Tekanan Media Sosial, Mahasiswi Banda Aceh Pilih Hubungan dengan Sugar Daddy

Pria Kaya/Pexels

Fenomena hubungan mahasiswi dengan pria beristri yang jauh lebih tua, termasuk praktik nikah siri, disebut semakin marak di Banda Aceh. Sejumlah perempuan muda dikabarkan memilih menjalin relasi dengan pria mapan demi memperoleh dukungan finansial dan gaya hidup yang dianggap lebih nyaman.

Salah satu pengakuan datang dari seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang identitasnya disamarkan sebagai Dinda. Ia mengaku telah hampir dua tahun menjalin hubungan dengan seorang pria berusia sekitar 50 tahun yang telah memiliki istri dan anak.

“Orang-orang bilang simpanan. Ya mungkin memang begitu,” kata Dinda.

Dinda mengaku pertama kali mengenal pria tersebut melalui seorang teman. Hubungan mereka kemudian berkembang hingga pria itu menawarkan bantuan biaya kuliah.

“Awalnya cuma dibantu uang semester,” ujarnya.

Menurut Dinda, bantuan yang diterimanya terus bertambah. Selain biaya kuliah, ia mengaku memperoleh uang bulanan, telepon genggam baru, hingga kebutuhan perawatan diri.

“Sekarang tiap bulan pasti dikirim uang, tapi kalau dah habis tinggal minta saja, pasti dikirim,” katanya.

Mahasiswi salah satu kampus swasta di Banda Aceh itu mengatakan dirinya masih menjalani aktivitas perkuliahan seperti biasa. Keluarganya disebut tidak mengetahui secara rinci hubungan yang dijalaninya.

“Keluarga tidak tahu detailnya. Mereka cuma tahu saya ada yang bantu,” ujarnya.

Ia mengaku tinggal bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Menurut Dinda, bantuan dari orang tua tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan gaya hidup yang diinginkannya.

“Orang tua juga ngasih, tapi kan terbatas, untuk skincare saja bisa jutaan, mana cukup,” katanya.

Dinda mengungkapkan dirinya dan pria tersebut belum menikah siri. Namun, keduanya disebut telah bersepakat untuk melangsungkan pernikahan siri dalam waktu dekat.

Ia juga menyebut fenomena serupa bukan lagi hal yang asing di kalangan sebagian mahasiswi dan perempuan muda di Banda Aceh.

“Ada yang dapat motor, ada yang dibelikan mobil. Ada juga yang sampai dikasih rumah kontrakan,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, salah seorang temannya yang masih berstatus mahasiswi disebut telah menikah siri dengan pria yang memiliki jabatan penting.

“Teman saya itu semester dua. Sekarang hidupnya enak kali. Kuliah tetap jalan, motor baru ada, uang bulanan juga lancar,” katanya.

Menurut Dinda, sebagian perempuan muda memandang hubungan dengan pria mapan sebagai jalan untuk memperoleh kepastian ekonomi.

“Kalau sama om-om setidaknya jelas. Dia sudah punya uang, usaha, rumah, relasi. Jadi kita juga dapat kehidupan yang nyaman,” ujarnya.

Ia menilai tekanan gaya hidup dan media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong fenomena tersebut. Keinginan memiliki barang bermerek, gawai terbaru, hingga tampil mengikuti tren disebut membuat sebagian anak muda membutuhkan pengeluaran yang lebih besar.

“Padahal tidak semua orang tua mampu kasih begitu,” katanya.

Meski demikian, Dinda mengakui hubungan semacam itu tidak selalu berakhir baik. Sejumlah perempuan, menurut dia, mengalami tekanan mental karena harus menyembunyikan hubungan dari keluarga maupun lingkungan sekitar.

“Mereka takut ketahuan keluarga. Ada juga yang akhirnya ditinggalkan begitu saja setelah bosan,” ujarnya.

Karena hubungan berlangsung tertutup dan tidak tercatat secara resmi, sebagian perempuan disebut tidak memiliki perlindungan hukum ketika hubungan berakhir.

“Ada yang sudah dikasih semuanya, tiba-tiba ditinggal,” kata Dinda.

Ia mengaku belum mengetahui sampai kapan akan mempertahankan hubungan tersebut.

“Selama dia masih baik dan masih bantu, saya jalanin saja,” ujarnya.

Fenomena perempuan muda yang memilih menjalin hubungan dengan pria mapan, termasuk melalui praktik nikah siri, belakangan menjadi perbincangan di Banda Aceh. Di balik citra religius kota tersebut, praktik yang selama ini lebih banyak beredar dari mulut ke mulut disebut hadir dan berkembang secara tertutup di kalangan tertentu.

Dilansir dari Kontras Aceh, pengakuan tersebut menggambarkan perubahan pola pikir sebagian perempuan muda yang menempatkan faktor ekonomi dan gaya hidup sebagai pertimbangan utama dalam menjalin hubungan.