Hadapi Ketidakpastian Dunia, Prabowo Klaim Pemerintah Hemat Anggaran hingga Rp300 Triliun

Presiden Prabowo Subianto menerima Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa sore, 9 Juni 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

Presiden Prabowo Subianto mengungkap pemerintah telah memangkas belanja yang dinilai tidak efisien dengan nilai lebih dari Rp300 triliun sebagai bagian dari strategi menjaga kesehatan fiskal di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Langkah tersebut disampaikan Prabowo saat menanggapi artikel majalah The Economist berjudul “Archipelagoing Fast” yang terbit pada 16 Mei dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Menurut Prabowo, situasi global saat ini masih dibayangi konflik dan ketegangan geopolitik yang memicu gejolak di berbagai sektor, mulai dari energi, pangan, hingga keuangan.

“Indonesia saat ini berada dalam lingkungan global yang sulit dan penuh ketidakpastian. Perang dan ketegangan geopolitik telah meningkatkan volatilitas di pasar energi, pangan, dan keuangan dunia,” kata Prabowo, Senin (15/6).

Meski menghadapi tekanan eksternal, Prabowo menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Ia menyebut Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara negara-negara G20 pada kuartal I 2026.

Prabowo juga menyoroti kondisi fiskal Indonesia yang dinilai masih relatif sehat dibandingkan banyak negara lain.

“Defisit anggaran kami tetap di bawah 3 persen terhadap PDB, sedangkan rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju,” ujarnya.

Untuk mempertahankan kondisi tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran yang dibarengi penguatan disiplin fiskal dan integritas kelembagaan.

“Kami memangkas belanja yang tidak efisien lebih dari Rp300 triliun,” kata Prabowo.

Selain efisiensi anggaran, pemerintah juga memperkuat integritas kelembagaan melalui digitalisasi sistem perpajakan, perbaikan tata kelola ekspor, pemberantasan penyelundupan, serta menjaga disiplin defisit anggaran di tengah gejolak ekonomi global.