Generasi.co, Bandung – Anggota MPR RI Atalia Praratya menegaskan bahwa Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus media sosial dan konten digital tidak dapat langsung disimpulkan memiliki tingkat literasi rendah. Sebaliknya, hasil survei menunjukkan Gen Z justru menjadi kelompok paling aktif membaca dibanding generasi sebelumnya.
Hal itu disampaikan Atalia dalam seminar perpustakaan bertema “Perpustakaan Tanpa Batas: Gen Z Suka Baca Gak Sih?” yang digelar di Ruang Galunggung Lantai 4, Gedung A, Universitas Widyatama, Bandung, Senin (22/6/2026).
Ia mengutip hasil survei Jakpat yang menunjukkan tingkat aktivitas membaca Gen Z mencapai 26 persen, lebih tinggi dibanding Milenial sebesar 20 persen dan Generasi X sebesar 18 persen. Jenis bacaan yang dikonsumsi Gen Z pun beragam, mulai dari artikel daring, buku fisik, hingga buku elektronik.
Menurut Atalia, Gen Z yang lahir pada periode 1997–2012 juga merupakan generasi terbesar di Indonesia dengan porsi 24,93 persen, sedikit di atas Milenial yang mencapai 24,34 persen dan Baby Boomer 10,31 persen. Karakter generasi ini dinilai sangat lekat dengan teknologi, cepat beradaptasi, serta kritis terhadap isu sosial.
“Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan teknologi. Mereka cepat beradaptasi, mengakses informasi secara instan, kritis terhadap isu sosial, serta memiliki karakter mandiri, kreatif, dan kolaboratif,” ujar Atalia.
Untuk meningkatkan minat baca, Atalia mendorong transformasi perpustakaan menjadi ruang yang lebih inklusif dan fungsional, tidak hanya sebagai tempat penyimpanan buku. Ia menyebut perpustakaan perlu dikembangkan menjadi knowledge hub, co-working space gratis, ruang diskusi, hingga studio konten sederhana.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran perpustakaan di ruang digital yang dekat dengan Gen Z seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts. Selain itu, koleksi perpustakaan juga perlu menyesuaikan perkembangan zaman dengan menghadirkan podcast, video edukasi, hingga infografis.
“Perpustakaan bisa menjadi ruang eksplorasi ide, bukan hanya tempat menyimpan buku,” katanya.
Senada dengan itu, CEO Narabahasa Ivan Razela Lanin menilai Gen Z tidak mengalami penurunan minat baca. Ia bahkan menegaskan bahwa generasi tersebut tetap aktif membaca dengan berbagai bentuk dan medium.
Ia mengutip data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) nasional meningkat dari 66,7 pada 2023 menjadi 72,44 pada 2024. Sementara data GoodStats 2024 mencatat 84,7 persen Gen Z mengaku gemar membaca buku.
Ivan menilai kebiasaan membaca bukan semata soal akses atau fasilitas, melainkan identitas diri. Menurutnya, seseorang menjadi pembaca karena ia memilih untuk mengidentifikasi diri sebagai pembaca.
“Saya membaca karena saya memutuskan bahwa saya adalah orang yang membaca,” ujarnya.
Ia menambahkan, tugas perpustakaan adalah membangun identitas tersebut agar masyarakat terdorong menjadi pembaca, bukan sekadar menyediakan koleksi buku.
Pandangan lain disampaikan Kepala Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Widyatama, Haria Saputry Wahyuni. Ia menyoroti fenomena BookTok, Bookstagram, hingga tren cafe library yang menjadi bagian dari gaya hidup literasi Gen Z.
Haria juga menilai literasi memiliki fungsi lain sebagai bentuk terapi psikologis. Menurutnya, membaca dapat membantu meredakan kecemasan yang banyak dialami Gen Z di tengah tekanan kehidupan modern.
“Membaca fiksi dapat meningkatkan empati dan mengurangi kecemasan, membaca lambat melatih fokus dan kesabaran, sementara ruang baca yang tenang membantu meredakan kelelahan digital,” ujarnya.
Seminar tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat akademik dan perwakilan MPR RI, di antaranya Wakil Rektor Universitas Widyatama Didit Damur Rochman, Dekan FISIP Soni Akhmad Nulhaqim, serta Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antarlembaga Setjen MPR RI Rosando.
Dalam forum itu, MPR RI melalui Perpustakaan MPR juga memaparkan pengembangan menuju pusat literasi konstitusi, termasuk digitalisasi koleksi agar dapat diakses masyarakat luas.










