Generasi.co, Ho Chi Minh City – Pemerintah Vietnam memperketat operasi besar-besaran terhadap peredaran barang palsu di berbagai kota, menyusul meningkatnya tekanan internasional dari Amerika Serikat yang menyoroti lemahnya perlindungan hak kekayaan intelektual di negara tersebut.
Langkah ini menyasar pasar-pasar populer, gudang, hingga jaringan distribusi yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan produk tiruan berbagai merek global, mulai dari fesyen hingga aksesori mewah.
Salah satu pedagang di kawasan Saigon Square, Ho Chi Minh City, yang meminta identitasnya disamarkan dengan nama “Thanh Truc”, menyebut pengawasan aparat kini jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.
“Penegakan hukum sekarang jauh lebih ketat,” kata Thanh Truc. Ia menuturkan bahwa selama ini razia kerap terjadi, namun aktivitas pasar biasanya kembali normal setelah aparat pergi. “Biasanya ada razia, barang disita, lalu setelah itu semuanya kembali seperti biasa.”
Namun, ia menegaskan kondisi kali ini berbeda karena inspeksi mendadak dan penyitaan membuat sebagian pedagang mulai mengurangi stok barang bermerek tiruan, meski aktivitas jual beli belum berhenti sepenuhnya.
Pada 7 Mei, pemerintah Vietnam meluncurkan kampanye nasional untuk menindak pelanggaran hak kekayaan intelektual, termasuk barang palsu, pembajakan daring, dan pelanggaran merek dagang. Otoritas juga menargetkan peningkatan penindakan sedikitnya 20 persen dibanding periode sebelumnya.
Tekanan tersebut meningkat setelah Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) dalam laporan April menetapkan Vietnam sebagai “priority foreign country” terkait lemahnya penegakan hukum atas pelanggaran kekayaan intelektual. Laporan itu juga menyebut Vietnam sebagai salah satu negara dengan tingkat pelanggaran tertinggi.
Sejak itu, aparat Vietnam memperluas operasi penindakan di berbagai wilayah. Dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari 1.400 kasus pelanggaran hak kekayaan intelektual ditangani otoritas setempat.
Pada 10 Juni, polisi di Provinsi Thanh Hoa membongkar jaringan produksi perhiasan palsu yang meniru merek seperti Bvlgari, Cartier, Louis Vuitton, hingga Tiffany & Co. Sindikat tersebut diperkirakan meraup keuntungan ilegal sekitar 1,14 juta dolar AS.
Di lapangan, sejumlah pedagang mengakui perubahan pola pengawasan. Beberapa pasar di Ho Chi Minh City dan Hanoi disebut mulai diperketat, sementara sebagian kios memilih menyembunyikan barang tiruan untuk menghindari razia.
Meski begitu, sebagian pelaku pasar menilai dampak penindakan belum sepenuhnya mengubah perilaku konsumen.
Seorang warga Da Nang, Huy, yang mengaku rutin membeli barang tiruan seperti kaus sepak bola dan sepatu, mengatakan kebiasaan tersebut sulit dihentikan selama produk masih mudah ditemukan.
“Menangkap para pedagang tidak menyelesaikan masalah,” ujar Huy. Ia menambahkan, “Kalau barang palsu masih mudah didapat, saya akan tetap membeli seperti biasa. Harganya murah, praktis, dan gampang dicari.”
Menurut para analis, tingginya permintaan domestik menjadi salah satu faktor yang membuat pasar barang palsu di Vietnam tetap bertahan, meski razia terus diperketat.
BBC News melaporkan bahwa sebagian besar produk tiruan tersebut juga mengalir melalui rantai pasok dari wilayah perbatasan utara Vietnam dengan China sebelum didistribusikan ke pasar lokal dan kawasan wisata.
Hingga kini, pemerintah Vietnam terus mengintensifkan penindakan, namun sejumlah pengamat menilai pemberantasan total industri barang palsu masih sulit tercapai selama permintaan pasar tetap tinggi.










