Di SDGs Youth Summit, Eddy Soeparno Paparkan Program Prioritas Ketahanan Energi Nasional

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyampaikan keynote speech pada Indonesia Youth SDGs Summit 2026 dan memaparkan strategi penguatan ketahanan energi nasional serta transisi energi berkeadilan menuju pembangunan berkelanjutan./MPR RI

Generasi.co, Jakarta – Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen hanya dapat dicapai apabila diiringi penguatan ketahanan energi dan pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, keberlanjutan harus menjadi fondasi utama dalam menjaga daya saing nasional di tengah tantangan global.

Pernyataan tersebut disampaikan Eddy saat memberikan keynote speech pada Indonesia Youth SDGs Summit 2026 yang diselenggarakan Universitas Bakrie dengan tema “Next-Gen Solutions for Energy and Food Security.”

Kegiatan itu juga dihadiri tokoh lingkungan hidup Prof. Emil Salim, Rektor Universitas Bakrie Prof. Sofia Alisjahbana, serta akademisi, mahasiswa, dan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam paparannya, Eddy mengatakan dunia saat ini menghadapi tantangan besar akibat krisis iklim dan meningkatnya ketegangan geopolitik yang berdampak terhadap ketahanan energi, rantai pasok global, dan stabilitas ekonomi.

“Keberlanjutan bukan hanya sekadar pilihan, namun juga menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang tangguh. Ketahanan energi, ketahanan pangan, dan pembangunan rendah karbon harus dipandang sebagai investasi strategis untuk menjaga daya saing Indonesia di masa depan,” ujar Eddy.

Menurutnya, berbagai bencana akibat perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan besarnya biaya ekonomi yang harus ditanggung apabila pembangunan mengabaikan aspek keberlanjutan. Karena itu, implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) perlu ditempatkan sebagai instrumen pembangunan nasional yang menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.

Eddy juga menyoroti dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan energi dunia. Ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan LPG masih menjadi tantangan serius bagi ketahanan nasional.

“Paradoksnya, Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya energi, namun masih sangat rentan terhadap gejolak pasokan global. Ketahanan energi harus menjadi bagian dari strategi ketahanan nasional sehingga kita tidak terus bergantung pada dinamika geopolitik internasional,” tegasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Eddy mendorong transisi energi dilakukan secara bertahap dan berkeadilan. Menurutnya, percepatan pemanfaatan energi baru terbarukan perlu berjalan beriringan dengan penggunaan gas sebagai bridging fuel, peningkatan eksplorasi energi domestik, pengembangan bioenergi, serta penerapan teknologi Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS).

Ia juga memaparkan tiga prioritas penguatan ketahanan energi nasional. Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memperkuat kapasitas kilang nasional, mempercepat elektrifikasi, dan melakukan substitusi energi guna mengurangi ketergantungan impor.

Pada jangka menengah, Indonesia didorong mengembangkan bioenergi seperti biodiesel, bioetanol, biogas, hingga Sustainable Aviation Fuel (SAF). Sementara dalam jangka panjang, pengembangan hidrogen dan pembangkit listrik tenaga nuklir dinilai perlu dipersiapkan sebagai bagian dari strategi menuju net-zero emissions.

Eddy turut mengajak generasi muda mengambil peran dalam mendorong transformasi energi dan pembangunan berkelanjutan melalui inovasi, riset, kewirausahaan hijau, dan kepemimpinan.

“Anak-anak muda adalah aktor utama yang akan menentukan arah pembangunan Indonesia. Inovasi, riset, kewirausahaan hijau, dan kepemimpinan generasi muda akan menjadi faktor penentu keberhasilan Indonesia mencapai target pembangunan berkelanjutan,” katanya.

Menutup pidatonya, Eddy menegaskan Indonesia harus menjadi pelaku utama dalam agenda transisi energi global, bukan sekadar mengikuti kebijakan negara lain.

“Kita harus menjadi policy shaper, bukan sekadar policy taker. Indonesia memiliki sumber daya alam, potensi energi terbarukan, dan modal demografi yang sangat besar. Dengan strategi yang tepat, kita mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang kuat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang,” tutup Anggota Komisi XII DPR RI tersebut.