Prabowo di BRICS: Suara Global South Harus Didengar

Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas mengenai perkembangan penanganan bencana alam dari Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video pada Senin, 7 September 2026. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Generasi.co, NEW DELHI – Presiden Prabowo Subianto menyerukan agar suara negara-negara Global South atau belahan bumi selatan lebih didengar dalam menentukan arah pembangunan dan tatanan global. Seruan itu disampaikan Prabowo dalam KTT ke-18 BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, 12-13 September.

Prabowo menilai BRICS memiliki posisi strategis untuk menyatukan dan memperkuat suara negara-negara Global South dalam membentuk masa depan dunia. Menurut dia, penguatan suara tersebut tidak hanya diperlukan untuk mempercepat agenda pembangunan hingga 2030, tetapi juga menentukan arah setelah target tersebut berakhir.

“Oleh karena itu, sudah sewajarnya suara negara-negara Global South didengar, tidak hanya dalam mempercepat pelaksanaan agenda 2030, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan setelahnya,” kata Prabowo dalam forum BRICS.

Prabowo mengatakan masyarakat internasional dalam empat tahun mendatang akan memasuki 2030 yang menjadi target pencapaian Agenda 2030 dan tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs).

Berbagai komitmen telah disepakati negara-negara dunia untuk mengentaskan kemiskinan, melindungi planet, dan membangun institusi yang lebih kuat. Prabowo menegaskan komitmen tersebut harus terus dilanjutkan setelah 2030.

“Komitmen ini tetap teguh. Kita harus terus melangkah melampaui tahun 2030,” ujarnya.

Menurut Prabowo, Agenda 2030 tidak semata-mata berkaitan dengan pencapaian target dalam batas waktu tertentu. Agenda tersebut juga harus membawa negara-negara berkembang ke posisi yang semestinya dalam tatanan global.

“Agenda ini bertujuan membawa negara-negara berkembang ke posisi yang semestinya, mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat kita, serta memberikan peran yang lebih besar bagi negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global,” ucap Prabowo.

Seruan mengenai penguatan suara Global South itu menjadi salah satu pesan Prabowo dalam rangkaian KTT ke-18 BRICS 2026. Pada hari pertama, Prabowo juga mengaitkan posisi negara-negara belahan bumi selatan dengan spirit Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955.

Dalam sesi terbatas, Prabowo mengatakan negara-negara yang baru meraih kemerdekaan saat KAA 1955 dapat bersatu sebagai mitra yang setara sehingga suara mereka terdengar lebih luas.

“Kepentingan kami dapat lebih terlindungi dan diperjuangkan. Pelajaran ini tetap sangat penting. Dengan bersatu, kami juga menjadi lebih kuat,” kata Prabowo dalam sesi terbatas KTT BRICS.

Prabowo juga menyerukan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia menilai PBB harus lebih representatif, tanggap, dan mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat dunia.

“Sebab, PBB tetap menjadi satu-satunya institusi multilateral tempat semua bangsa berkumpul sebagai pihak yang setara. Dan agar PBB dapat menjalankan peran sentralnya secara efektif, institusi ini harus direformasi. PBB harus menjadi lebih representatif, lebih tanggap, dan lebih mampu memberikan hasil nyata bagi masyarakat kita,” imbuhnya.

Pada hari kedua, Prabowo membawa isu ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan dalam sesi bertema ‘Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth’.

Dia mengatakan negara-negara BRICS memiliki kekuatan besar berupa sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar yang dapat disatukan untuk menghadapi tantangan global.

“Ketika kita menghadapi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita juga menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah yang sangat besar. Satukan semuanya, dan BRICS dapat memberikan perbedaan yang nyata dan penting bagi dunia,” ujar Prabowo.

Prabowo juga menyoroti kemampuan Indonesia mengubah keterbatasan menjadi kapasitas. Dia mengatakan Indonesia yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu importir utama biji-bijian, beras, dan jagung kini telah menjadi eksportir.

“Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung. Kini, kita telah menjadi eksportir dan akan mampu meningkatkan dukungan untuk seluruh dunia,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya pembangunan dan penguatan kemampuan nasional. Dia kemudian menawarkan industrialisasi bersama kepada negara-negara BRICS untuk mengoptimalkan sumber daya dan kapasitas yang dimiliki.

“Oleh karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” imbuhnya.

Prabowo juga menyinggung perubahan iklim dan bencana yang dihadapi Indonesia sebagai negara kepulauan. Menurut dia, kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi menjadi tantangan yang harus dihadapi bersamaan dengan upaya pembangunan.

Dia mengatakan kekayaan daratan dan lautan Indonesia, termasuk mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan, dapat menjadi landasan bagi masa depan.

“Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau. Itulah sebabnya, ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional,” ucap Prabowo.

Prabowo menghadiri KTT ke-18 BRICS 2026 yang digelar di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada 12-13 September. Hari pertama forum dipimpin Perdana Menteri India Sri Narendra Modi dan dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, serta kepala negara dan pemerintahan lainnya yang mayoritas berasal dari negara-negara belahan bumi selatan.