BRIN Sebut Gunung Anak Krakatau Masih Jauh dari Letusan Kaldera

Gunung Anak Krakatau/Kemen ESDM

Generasi.co, JAKARTA – Gunung Anak Krakatau masih berada dalam fase inkubasi sehingga belum mendekati tahapan fermentasi sebelum terjadi letusan besar pembentuk kaldera, kata Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Aditya Pratama.

Aditya mengatakan kondisi tersebut membuat potensi letusan dahsyat yang dapat membentuk kaldera masih cukup jauh. Menurut dia, proses menuju letusan pembentuk kaldera berlangsung melalui sejumlah tahapan.

“Pada (Gunung) Anak Krakatau, ini diperkirakan masih pada fase inkubasi begitu ya. Masih cukup jauh untuk menuju ke fase fermentation sebelum terjadinya caldera forming eruption,” kata Aditya dalam diskusi kebencanaan yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.

Pola letusan pembentuk kaldera, kata dia, umumnya melalui fase inkubasi, pematangan atau maturasi, kemudian fermentasi, sebelum mencapai letusan besar pembentuk kaldera.

Temuan tersebut diperkuat riset terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Frontiers in Earth Science. Berdasarkan penelitian itu, dapur magma Anak Krakatau berada pada rentang kedalaman 7,4 hingga 26,6 kilometer.

Aditya mengatakan kondisi dapur magma Anak Krakatau berbeda dengan Krakatau tua dan Krakatau muda. Kedua periode tersebut terbukti memiliki kantong dapur magma besar di kedalaman yang sangat dangkal menjelang masa kehancurannya.

Sistem gunung api di Selat Sunda secara historis terbagi dalam tiga periode utama, yakni Krakatau tua, Krakatau muda, dan Anak Krakatau yang muncul secara perlahan setelah letusan 1883.

Aditya menjelaskan tim peneliti menganalisis belasan sampel batuan melalui kajian petrografi dan geokimia. Hasilnya menunjukkan karakteristik magma Anak Krakatau terus mengalami evolusi dan berbeda dengan periode sebelumnya.

Kandungan mineral olivin yang ditemukan dalam sampel batuan Anak Krakatau juga memperkuat indikasi adanya perbedaan komposisi kimia pada dapur magma saat ini.

Aditya menyebut potensi letusan besar tetap ada seiring berjalannya waktu. Namun, proses pematangan tersebut diprediksi membutuhkan waktu yang sangat lama sehingga memberikan ruang antisipasi bagi masyarakat.

Ia berharap pemahaman mengenai dapur magma dan siklus gunung api polisiklik dapat menjadi rujukan bagi pemerintah dalam menyempurnakan strategi mitigasi kebencanaan.