Generasi.co, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah melalui Perpres No. 12 Tahun 2025 tidak hanya dirancang untuk meningkatkan status gizi masyarakat, akan tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
Dalam praktiknya, program strategis nasional ini menuntut adanya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, institusi pendidikan tinggi, peneliti, hingga UMKM agar tercipta ekosistem yang saling mendukung.
Semangat kolaborasi itu tercermin dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Pemberdayaan Pelaku Usaha Daerah/UMKM yang diselenggarakan oleh Badan Gizi Nasional di Ramada by Wyndham Serpong Hotel pada 3 September 2025.
Kegiatan ini mempertemukan para pemangku kepentingan seperti Swiss German University, Bappeda, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Kesehatan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, kepala SPPG (Sentra Penyediaan Pangan Gizi) Kabupaten Tangerang, serta para perajin dan komunitas UMKM.
Dalam forum itu, dua peneliti dari Swiss German University (SGU), universitas internasional di Indonesia, Della Rahmawati, S.Si., M.Si., Ph.D. dan Tabligh Permana, M.Si., turut berkontribusi dengan keahlian mereka. Della menekankan pentingnya keamanan pangan sebagai fondasi utama keberhasilan MBG.
“Makanan bergizi tidak akan bermanfaat bila tidak aman dikonsumsi. Kami ingin memastikan bahwa pemahaman tentang penjaminan keamanan pangan tertanam di seluruh rantai produksi, sehingga apa yang disajikan kepada masyarakat benar-benar sehat dan melindungi konsumen,” jelasnya.
Sementara itu, Tabligh Permana memberikan pelatihan mengenai produk berbasis tempe, salah satu bahan baku utama yang digunakan dalam program MBG.
Ia tidak hanya membicarakan gizi, tetapi juga bagaimana tempe bisa menggerakkan ekonomi lokal.
“Saya melatih 100 orang dari 10 desa di Kabupaten Tangerang untuk menjadi pengusaha tempe. Harapannya, produk mereka bisa langsung diserap sebagai bahan baku MBG, sehingga tercipta siklus ekonomi baru di tingkat desa.”
“Kami juga memperkenalkan inovasi tempe semangit yang dapat dijadikan alternatif pangan bergizi bagi masyarakat,” ungkap Tabligh.
Keterlibatan akademisi dalam forum ini diapresiasi oleh Rektor SGU, Assoc. Prof. Dr. Dipl.-Ing. Samuel P. Kusumocahyo, yang menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk terjun langsung dalam program strategis bangsa.
“Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan bergizi yang dibagikan, tetapi juga dari bagaimana ekosistem ekonomi lokal tumbuh bersamaan.”
“Perguruan tinggi, pemerintah, dan UMKM harus bahu-membahu agar program ini membawa dampak berkelanjutan,” ujar Rektor SGU.
Diskusi antara pemerintah daerah, instansi, UMKM, dan akademisi dalam acara ini menunjukkan betapa pentingnya jejaring yang solid.
Semua pihak diharapkan dapat terus terkoneksi agar tujuan besar MBG membangun generasi sehat sekaligus memperkuat perekonomian lokal dapat benar-benar tercapai.
Sebagai tindak lanjut, pelatihan ini juga membuka ruang bagi sinergi jangka panjang antar pihak yang terlibat.
Harapannya, kolaborasi ini bukan hanya berhenti pada pelaksanaan MBG semata, tetapi menjadi model pembangunan berkelanjutan di sektor pangan.
Dengan penelitian yang terus berkembang, keterlibatan aktif UMKM, dan dukungan kebijakan pemerintah, ekosistem pangan lokal dapat tumbuh lebih kuat, mandiri, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas.










