Perkuat Ekonomi Desa, BRI dan Pemprov Jateng Dorong 8.000 Koperasi ‘Naik Kelas’

BRILink Agen/Ist.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui dukungan penuh terhadap Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Salah satu strategi konkret yang ditawarkan bank pelat merah ini adalah mendorong koperasi menjadi Agen BRILink. Langkah ini dinilai efektif sebagai solusi bisnis awal bagi koperasi yang baru merintis usaha.

Hal tersebut disampaikan Department Head Ultra Mikro BRI Regional Office (RO) Semarang, Aldila Safarella Nur, di sela-sela acara Kick off Training: Empowering Cooperatives through Financial Accountability and Strategic Business Matching di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/2).

Solusi Bagi Koperasi Rintisan

Aldila menjelaskan, Agen BRILink merupakan satu dari tujuh program ekonomi yang dapat diakses oleh KDKMP. Program ini menjadi jawaban bagi koperasi yang masih bingung menentukan model bisnis atau belum memiliki unit usaha sama sekali.

“BRI sangat mendukung pengembangan Koperasi Desa Merah Putih. Jadi, untuk KDKMP yang ingin memulai usaha namun belum memiliki unit bisnis, bisa mengajukan diri sebagai Agen BRILink,” ujar Aldila.

Menurutnya, menjadi agen laku pandai tidak hanya mendekatkan akses perbankan ke masyarakat desa (inklusi keuangan), tetapi juga memberikan keuntungan finansial nyata berupa pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang bisa mempertebal kas koperasi.

“Ini merupakan bentuk inklusi keuangan berkelanjutan yang sekaligus menghasilkan fee-based income bagi koperasi itu sendiri,” tambahnya.

Aldila turut mencontohkan kisah inspiratif sebuah koperasi yang mampu bangkit dari nol modal hingga mencatatkan omzet Rp120 juta. Ia berharap model keberhasilan ini bisa diduplikasi oleh KDKMP lainnya di seluruh Indonesia.

Potensi Raksasa di Jawa Tengah

Dukungan perbankan ini disambut antusias oleh Kepala Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto. Ia mengungkapkan data bahwa potensi koperasi di wilayahnya sangat besar.

Tercatat, dari total 8.523 unit KDKMP di Jawa Tengah, sebanyak 73 persen atau 6.271 unit telah aktif beroperasi. Sementara sisanya, sekitar 27 persen (2.252 unit), masih dalam tahap proses aktivasi.

“Potensi dari koperasi ini sangat luar biasa. Ada perbankan untuk permodalan,” tegas Eddy.

Kendati demikian, Eddy mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi membutuhkan kerja keras dan kejelian melihat potensi lokal. Ia mendorong pengurus koperasi untuk memulai dari apa yang ada di sekitarnya, baik itu sektor perikanan, pertanian, maupun kebutuhan pokok.

“Optimisme untuk koperasi ini perlu perjuangan keras. Semua berproses dari bawah. Kalau adanya potensi ikan ya kembangkan, kalau ada jambu kristal ya kumpulkan. Bahkan sudah ada yang berjalan menyediakan sembako,” pungkasnya.