Gencatan Senjata AS-Iran, HNW: Hentikan Juga Serangan ke Lebanon, Negara Teluk, Palestina, dan Buka Masjid Al Aqsha

Wakil Ketua MPR RI, Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid, M.A. (HNW)/Ist.

Jakarta, Generasi.co — Parlemen Indonesia menyambut positif keberhasilan diplomasi Pakistan yang mampu menengahi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Langkah bersejarah ini dinilai krusial untuk menghindarkan dunia dari ancaman Perang Dunia Ketiga, krisis ekonomi global, hingga mengamankan kelancaran ibadah Haji 2026.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid (HNW), secara khusus memberikan dukungan penuh atas inisiatif tersebut yang kini turut didukung oleh PBB, OKI, dan Uni Eropa. Namun, HNW mendesak agar cakupan gencatan senjata ini diperluas.

Dalam rilis resminya di Jakarta, Rabu (8/4/2026), HNW meminta agar negosiasi lanjutan yang akan digelar di Islamabad pada 10 April 2026 tidak hanya menghentikan kontak senjata AS-Iran, tetapi juga menghentikan agresi militer di berbagai front Timur Tengah.

“Poin-poin tersebut sangat krusial agar gencatan senjata dapat terlaksana dengan maksimal. Gencatan senjata bukan hanya antara AS dan Iran dan meliputi Lebanon, tapi juga meliputi negara-negara Teluk. Selain itu, gencatan senjata itu juga perlu secara definitif meliputi penghentian serangan bersenjata atas Palestina dan penghentian Israel yang terus menutup Masjid Al Aqsha,” tegas HNW.

Dorong Prabowo Lakukan Manuver Diplomasi RI

Lebih jauh, HNW mendesak Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan Presiden Prabowo Subianto, untuk tidak hanya menjadi penonton. Meski tidak berbatasan langsung dengan episentrum konflik, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar strategis.

HNW menyoroti kedekatan komunikasi antara Presiden Prabowo dengan Presiden AS Donald Trump, serta posisi Indonesia yang sangat dihormati oleh Iran sebagai negara muslim terbesar di dunia.

“Pemerintah Indonesia bisa menguatkan atau mengusulkan memperkaya cakupan gencatan senjata tersebut agar terciptalah perdamaian meluas dan abadi. Minimal hingga selesainya musim haji 2026, karena salah satu poin utama ketentuan Konstitusi yaitu perdamaian dengan terwujudnya kemerdekaan bangsa dan negara Palestina,” urainya merujuk pada amanat UUD 1945.

Peringatkan Trump: Jangan Terjebak Skenario Radikal Netanyahu!

Dalam pernyataan penutupnya yang menohok, HNW melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump agar tidak lagi dimanipulasi oleh ambisi radikal Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Berdasarkan laporan intelijen dari Pakistan dan Turki, HNW membeberkan bahwa Israel saat ini tengah berupaya keras menyabotase perundingan damai Islamabad dengan terus membombardir Lebanon.

“Hal ini terbukti bahwa saat ini satu-satunya pihak yang tidak menyukai gencatan senjata AS-Iran adalah Israel. Fakta ini makin menambah bukti bahwa biang kerok ketidakstabilan dan ketidakdamaian di kawasan Timur Tengah dan negara Arab adalah Israel,” tukas HNW.

Ia berharap kesediaan Trump untuk duduk di meja perundingan menjadi titik balik bagi Washington untuk benar-benar menekan Israel, bukan justru terus memuluskan skenario perang tanpa akhir demi ambisi ‘Israel Raya’.