Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah Teheran melancarkan serangan balasan ke sejumlah target militer AS di kawasan Timur Tengah. Iran mengklaim menyerang 21 sasaran militer setelah wilayahnya digempur militer AS sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache di Selat Hormuz.
Ketegangan memuncak ketika militer AS melancarkan serangan yang disebut sebagai aksi pertahanan diri terhadap Iran. Serangan itu dilaporkan menyasar sejumlah wilayah di Provinsi Hormozgan, termasuk Pulau Qeshm dan kawasan pesisir dekat Selat Hormuz. Ledakan terdengar di beberapa lokasi, sementara jet tempur AS dilaporkan memenuhi wilayah udara Iran.
“Pasukan Amerika mulai melancarkan serangan pertahanan diri terhadap Iran, pada pukul 17.00 ET (04.00 WIB) hari ini atas arahan Panglima Tertinggi, sebagai respons terhadap jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS kemarin,” kata Komando Pusat AS dalam unggahan di X.
“Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan,” lanjut pernyataan tersebut.
Iran langsung bereaksi keras. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan AS agar meninggalkan wilayah Iran jika ingin terhindar dari risiko lebih lanjut.
“Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman,” kata Araghchi melalui akun X miliknya.
Ia menegaskan Iran tidak akan membiarkan serangan terhadap negaranya tanpa balasan.
“Meskipun kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami. Angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa balasan,” ujarnya.
Tak lama setelah itu, Iran mengumumkan operasi balasan terhadap sejumlah kepentingan militer AS di kawasan Teluk. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang 21 target militer AS di Timur Tengah.
Dalam keterangannya, IRGC juga mengaku berhasil menembak jatuh drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS yang terdeteksi memasuki wilayah udara Provinsi Bushehr di selatan Iran.
Selain itu, IRGC menyebut telah melancarkan serangan drone terhadap pangkalan Armada Kelima AS di Bahrain pada Rabu (10/6) dini hari sekitar pukul 02.30 waktu setempat.
Iran menegaskan serangan tersebut merupakan balasan atas gempuran AS yang menargetkan wilayah Jask, Sirik, dan Qeshm di bagian selatan negara itu. IRGC juga memperingatkan bahwa serangan yang lebih besar akan dilakukan jika Washington melanjutkan aksi militernya.
Ketegangan semakin meluas setelah Bahrain mengumumkan berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal serta drone yang ditembakkan Iran ke wilayah kerajaan tersebut.
Komando Umum Angkatan Pertahanan Bahrain menuduh Iran terus menjalankan tindakan permusuhan melalui serangan rudal dan drone yang disebut menargetkan warga sipil.
Pihak Bahrain menyatakan seluruh sistem pertahanan dan unit militernya berada dalam tingkat kesiapan tertinggi untuk menjaga keamanan wilayah negara tersebut.
Selain itu, warga diminta waspada terhadap benda asing atau mencurigakan yang diduga berasal dari puing-puing rudal dan drone yang berhasil dicegat.
“Komando Umum menyerukan masyarakat untuk berhati-hati terhadap benda-benda asing atau mencurigakan, yang berasal dari sisa-sisa serangan brutal Iran, dan untuk menghindari dalam mendekati atau menanganinya serta segera melaporkannya,” demikian pernyataan Angkatan Pertahanan Bahrain.
Menurut otoritas Bahrain, personel terkait telah disiagakan untuk menangani puing-puing tersebut secara aman demi menjaga keselamatan warga dan penduduk setempat.










