Trump Puji Prabowo: Sosok Luar Biasa

Presiden Prabowo Subianto tengah berbincang dengan Presiden AS Donald Trump/Biro Pers Sekretariat Presiden

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji Presiden Prabowo Subianto sebagai sosok yang luar biasa. Pujian itu disampaikan Trump saat KTT Perdamaian Gaza yang digelar di Mesir Senin (13/10) waktu setempat.

“Bersama dengan kita adalah Presiden Prabowo, sosok luar biasa dari Indonesia,” ujar Trump, sembari menoleh ke arah Prabowo yang berdiri di antara para pemimpin negara lain.

Selain memuji Prabowo, presiden berusia 79 tahun itu juga memuji Indonesia sebagai bangsa yang kuat.

“Indonesia sudah kita bahas. Saya hanya ingin mengatakan bahwa itu adalah negara besar, negara yang kuat, dan kinerjanya sangat luar biasa,” ujarnya.

Pujian itu terlontar bermula ketika Trump berjabat tangan dengan Prabowo dalam acara itu. Berdasarkan keterangan resmi dari Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden, momen kedua kepala negara itu berjabat tangan terlihat setelah konferensi KTT Perdamaian Gaza dimulai.

Usai penandatanganan, Trump memberikan keterangan pers di hadapan awak media. Ia lantas menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pemimpin dunia yang hadir dan berperan dalam terwujudnya kesepakatan tersebut.

Dalam bagian lain pidatonya, Trump kembali menyinggung Indonesia. Ia menyebut Indonesia adalah negara yang besar dan kuat.

KTT Perdamaian Gaza, atau Gaza Peace Summit, adalah pertemuan internasional di Sharm el-Sheikh, Mesir, yang digelar pada 13 Oktober 2025 dengan tujuan utama mengakhiri konflik di Gaza dan mengatur tahapan pemulihan keamanan, politik, dan kemanusiaan di wilayah tersebut.

Pertemuan ini melibatkan puluhan pemimpin negara dan organisasi internasional. Mereka berkumpul untuk membahas rencana perdamaian yang konkret, termasuk gencatan senjata, pertukaran tahanan, pembentukan pemerintahan sementara atau mekanisme pemerintahan baru di Gaza, keamanan, pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas, dan rekonstruksi wilayah.

Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah usulan agar pemerintahan baru di Gaza tidak melibatkan Hamas secara administratif sebagai bagian dari upaya untuk menjamin stabilitas dan keamanan. Selain itu ada pembahasan tentang pembentukan pasukan multinasional yang bisa membantu menjaga perdamaian setelah konflik mereda.