Lebih dari 500 tokoh parlemen dunia, termasuk Hidayat Nur Wahid dan cucu Nelson Mandela, kirim surat ke Donald Trump untuk desak penghentian genosida dan kejahatan perang Israel di Gaza.
Generasi.co, Jakarta – Lebih dari 500 tokoh parlemen dan mantan anggota parlemen dari berbagai negara dunia mengirimkan surat terbuka kepada mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Surat tersebut merupakan bentuk desakan kepada Trump agar turut berperan aktif dan efektif menghentikan perang serta menyelamatkan kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Inisiatif ini digagas oleh komunitas internasional The Free Parliamentarians of the World bersama sejumlah tokoh politik dunia, di antaranya Wakil Ketua MPR RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid, Lc., M.A; cucu Nelson Mandela, Zwelivelile “Mandla” Mandela; mantan Ketua Parlemen Irak Osama al-Nujaifi; mantan Perdana Menteri Maroko Dr. Abdelilah Ben Kiran; serta sejumlah tokoh penting dari Aljazair, Mesir, Turki, dan Malaysia.
Hidayat Nur Wahid (HNW) menyampaikan bahwa surat tersebut telah ditandatangani secara kolektif oleh tokoh-tokoh lintas negara yang memiliki komitmen terhadap kemanusiaan dan keadilan internasional.
“Surat tersebut telah ditandatangani oleh para anggota dan mantan anggota parlemen dari berbagai belahan dunia. Isinya untuk mendesak Trump agar terlibat aktif dan efektif menghentikan perang dan menyelamatkan kemanusiaan di Gaza, Palestina, serta berhenti terlibat dalam kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Zionis Israel,” ujar HNW dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (12/5/2025).
Surat tersebut juga berisi kecaman keras terhadap tindakan penjajah Zionis Israel yang menjadikan warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, sebagai sasaran utama dalam serangan mereka.
Hidayat mengungkapkan bahwa tragedi kemanusiaan di Gaza telah menelan korban jiwa lebih dari 50.000 orang.
“Bencana kemanusiaan di Gaza ini telah menewaskan lebih dari 50 ribu nyawa. Ini tidak dapat disikapi dengan belas kasihan semata, melainkan aksi dan tindakan nyata sesegera mungkin oleh seluruh pihak, terutama negara-negara berpengaruh di kancah internasional,” tegas Hidayat.
Ia juga mengecam dukungan negara-negara besar terhadap Israel, yang terus melakukan genosida dan apartheid terhadap bangsa Palestina.
Menurutnya, surat ini memiliki makna penting karena ditandatangani dalam momentum peringatan Nakba, tragedi pengusiran massal warga Palestina sejak tahun 1948 oleh Israel.
“Surat yang ditandatangani pada bulan peringatan Nakba ini menjadi peringatan juga bagi kita semua agar jangan sampai terjadi Nakba lagi, di mana terulang kembali kejahatan dan tragedi kemanusiaan besar terhadap Palestina,” kata Hidayat.
Lebih lanjut, HNW menjelaskan bahwa The Free Parliamentarians of the World merupakan organisasi global yang memiliki misi untuk menegakkan keadilan, martabat manusia, serta hukum internasional.
Dalam suratnya, mereka mengingatkan Amerika Serikat—dan Trump secara khusus—untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan konstitusi yang mereka junjung.
“Sebagai organisasi internasional kami mengingatkan Trump mengenai posisi Amerika Serikat sebagai adidaya yang memiliki tanggung jawab moral dalam memajukan HAM, kemerdekaan, dan keadilan secara universal sebagaimana dicantumkan dalam konstitusi mereka sendiri,” jelasnya.
HNW juga menyampaikan bahwa surat tersebut mendesak Amerika Serikat agar mengoreksi sikap politik luar negerinya yang selama ini dinilai mendukung agresi militer Israel di Gaza.
Mereka menuntut agar AS mengambil sikap tegas dan independen dalam mendorong realisasi gencatan senjata serta perdamaian berkelanjutan di wilayah tersebut.
Selain itu, ia juga menyoroti keberhasilan diplomasi melalui kesepakatan pembebasan Edan Alexander, seorang tentara Israel berkewarganegaraan Amerika Serikat yang sempat ditawan oleh kelompok perlawanan Palestina.
Peristiwa ini, menurut HNW, membuktikan bahwa perundingan yang jujur dan bertanggung jawab jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan kekerasan yang dilakukan oleh Israel.
“Perundingan yang jujur dan bertanggung jawab adalah solusi, bukan dengan kekerasan dan kejahatan sebagaimana yang dilakukan Zionis,” tutup HNW.










