Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyerukan langkah strategis untuk menyelamatkan primata Indonesia dari ancaman kepunahan.
Hal tersebut ditegaskan Ibas dalam peringatan Hari Primata Indonesia. Ia mengingatkan bahwa kekayaan hayati Indonesia, termasuk spesies langka seperti orangutan, lutung, yaki, dan kukang, kini berada di ujung tanduk akibat deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan ilegal.
“Meskipun Indonesia memiliki undang-undang konservasi, tantangan pelestarian primata semakin kompleks. Deforestasi berkelanjutan dan perubahan iklim mengancam habitat, sementara konflik manusia–primata makin sering terjadi,” ujar Ibas di Jakarta.
Apresiasi Era SBY hingga Prabowo
Dalam pidatonya, Ibas mengajak seluruh elemen bangsa untuk berkolaborasi. Ia mengapresiasi jejak langkah pemerintah dalam menjaga alam, mulai dari kebijakan moratorium deforestasi yang dimulai pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga penguatan kebijakan konservasi yang kini dijalankan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ibas, yang juga merupakan Doktor lulusan IPB University, memaparkan delapan langkah strategis yang harus segera diterapkan:
- Pemberdayaan Masyarakat via Ekowisata: Menjadikan alam sebagai sumber pendapatan tanpa merusak habitat.
- Konservasi Berbasis Komunitas: Melibatkan warga lokal sebagai garda terdepan pelestarian.
- Pengelolaan Habitat Integratif: Pengendalian hama dan manajemen hutan yang holistik.
- Pendidikan dan Sosialisasi: Meningkatkan kesadaran publik secara masif.
- Ekonomi Berbasis Satwa: Mengembangkan sektor biomedis dan riset yang etis dan ramah lingkungan.
- Penegakan Hukum Tegas: Sikat habis perburuan dan perdagangan satwa ilegal.
- Pembangunan Berkelanjutan: Mengurangi kemiskinan untuk menekan eksploitasi alam.
- Kemitraan Internasional: Transfer teknologi dan dukungan global untuk konservasi.
Primata sebagai Aset Strategis Bangsa
Acara ini juga menghadirkan pandangan para pakar. Guru Besar SKHB IPB sekaligus Ketua Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB, Prof. Drh. Huda Shalahudin Darusman, menyoroti peran vital riset primata dalam pengembangan vaksin dan inovasi kesehatan global.
“Indonesia memiliki potensi besar membangun model pemanfaatan primata yang berkelanjutan dan tidak eksploitatif di tengah ancaman triple planetary crisis,” ujar Huda.
Senada, peneliti PSSP IPB, Dr. Puji Riyanti, menekankan pentingnya mitigasi konflik manusia-primata berbasis sains, termasuk penanaman pakan alami di zona penyangga.
Dari sisi hilir, Kepala Unit Pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR), drh. Endah Rumiyati, menegaskan peran lembaganya sebagai benteng konservasi.
“Saat ini TMR merawat sekitar 2.280 satwa, termasuk 25 jenis primata di Pusat Primata Schmutzer dengan total populasi 251 ekor,” ungkap Endah.
Dukungan Legislatif dan Kunjungan Lapangan
Dukungan politik juga mengalir dari Senayan. Wakil Ketua Komisi I DPR RI, H. Anton Sukartono Suratto, mendesak negara memberikan dukungan konkret, mulai dari kesejahteraan pegawai konservasi hingga fasilitas riset. Sementara Kapoksi Komisi IV DPR RI, Bambang Purwanto, menegaskan komitmen komisinya mendukung operasional Taman Margasatwa Ragunan.
Menutup kegiatannya, Ibas melakukan peninjauan langsung ke Pusat Primata Schmutzer. Ia berdialog dengan pengelola dan menyerahkan bantuan fasilitas berupa tiga unit tempat sampah besar untuk menunjang kebersihan kawasan.
Mengutip tokoh lingkungan global Al Gore, Ibas menutup dengan pesan persatuan:
“Our ability to reach unity in diversity will be the beauty and the test of our civilization.” (Kemampuan kita mencapai persatuan dalam keberagaman akan menjadi keindahan dan ujian bagi peradaban kita).










