IDAI Beri 13 Rekomendasi Lindungi Anak dari Abu Anak Krakatau

Anak-anak/Pexels

Generasi.co, Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan 13 rekomendasi untuk melindungi anak dari dampak kesehatan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau. Rekomendasi itu mencakup evakuasi anak, cara membersihkan abu, penggunaan masker dan pelindung mata, hingga penanganan ketika muncul gejala gangguan pernapasan.

Ketua Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan abu vulkanik bukan debu biasa. Material tersebut terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat halus dengan permukaan tajam dan abrasif.

“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat,” kata Piprim di Jakarta, Senin.

Abu vulkanik yang terhirup dapat menggores dan mengiritasi saluran pernapasan. Material tersebut juga mengandung gas iritan seperti sulfur dioksida (SO₂) dan karbon monoksida (CO) yang dapat memperparah iritasi serta memicu peradangan pada sistem pernapasan anak.

IDAI merekomendasikan orang tua mengungsikan anak dari lokasi terdampak letusan. Jika kualitas udara buruk dengan nilai ISPU lebih dari 100, anak dianjurkan tetap berada di dalam rumah dengan kondisi tertutup rapat.

Saat membersihkan abu, anak harus dijauhkan dari lokasi pembersihan. Jika tidak memungkinkan, orang tua dianjurkan menggunakan kain atau lap basah serta membasahi lantai atau objek yang akan dibersihkan agar abu tidak beterbangan.

Orang tua juga diminta mematikan alat yang memasukkan udara luar ke dalam rumah, seperti AC, atau mengaturnya pada mode air recirculation/closed vent. Kipas angin juga tidak dianjurkan karena dapat membuat abu yang mengendap di lantai dan furnitur kembali beterbangan.

Anak berusia lebih dari 2 tahun dianjurkan menggunakan masker khusus anak yang terpasang dengan baik. IDAI juga merekomendasikan penggunaan pelindung mata, seperti kacamata anak, serta pakaian tertutup untuk mengurangi paparan abu pada kulit.

Bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran napas, orang tua diminta menyiapkan obat-obatan rutin. Anak juga perlu dijauhkan dari sumber polusi tambahan di dalam rumah, termasuk asap rokok dan asap dapur, serta dipastikan cukup minum untuk mencegah dehidrasi.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Wahyuni Indawati mengatakan paparan abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan akut, mulai dari bersin, batuk, pilek hingga sesak napas.

“Pada anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis, paparan ini dapat memicu serangan akut atau eksaserbasi yang berbahaya,” ujarnya.

IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke rumah sakit jika mengalami sesak napas yang ditandai dengan laju napas meningkat, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan pemeriksaan dengan oksimeter jari.

Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi antara lain bayi, anak dengan riwayat displasia bronkopulmonal, serta anak dengan penyakit jantung bawaan.

Erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung sejak 4 September 2026 dan berstatus Siaga atau Level III. Abu vulkanik dilaporkan menyebar hingga Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Badan Geologi Kementerian ESDM menyatakan aktivitas vulkanik masih tinggi dan tren erupsi belum menunjukkan penurunan. Karena itu, IDAI mengingatkan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan perlindungan sebelum gejala kesehatan muncul.