Generasi.co, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyoroti buruknya penerapan SOP di sejumlah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia juga mempersoalkan dugaan ketidakjujuran kepala dapur dan jajaran yang menjadi kepanjangan tangan BGN di lapangan.
Sudaryono mencontohkan temuan di salah satu dapur yang dinilainya memiliki kondisi dan penerapan SOP yang buruk. Ia menyebut makanan ditempatkan di lantai dan aturan pelabelan ompreng tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Menurut Sudaryono, perintah untuk memasang label pada ompreng justru diterapkan dengan hanya membuat satu label untuk satu sekolah. Label tersebut disebut dibuat pada pukul 10.00, tetapi makanan baru diantar pukul 12.00. Ia mempertanyakan praktik tersebut karena label yang seharusnya diterapkan pada ompreng justru hanya dibuat dalam jumlah terbatas.
“Contoh saja, sudah diberi perintah untuk pasang label di omreng, akhirnya dipasang label satu omreng di dalam POP-nya dilaksanakan sehingga muncul di radar MBG jadi ada labelnya. Ternyata satu saja dibikin, ribuan yang lain yang dimasak itu kemudian omrengnya tidak ditaruh label,” kata Sudaryono melalui Instagram.
Sudaryono menegaskan kepala dapur dan jajaran SPPI merupakan bagian dari BGN yang ditempatkan di masing-masing wilayah. Karena itu, mereka seharusnya menjadi kepanjangan tangan BGN dalam berhadapan dengan mitra dan memastikan ketentuan yang ditetapkan BGN dijalankan.
Ia menyebut jajaran KPPG, KAREK, KORWIL, KORCAM, kepala dapur, dan SPPI tidak seharusnya mengabaikan ketentuan yang telah ditetapkan BGN.
“Jadi anda ini adalah kepanjangan tangan kami. Kalau seluruh kepala dapur, seluruh SPPI itu kemudian taat SOP, bertanggung jawab, hadir di setiap proses memasak di dapur, disiplin, sudah tidak perlu yang namanya Zoom tiap tengah malam,” ujar Sudaryono.
Menurut dia, pertemuan melalui Zoom pada tengah malam menjadi diperlukan karena masih terdapat persoalan kedisiplinan dan kepatuhan terhadap SOP di lapangan.
Sudaryono meminta KPPG, KAREK, KORWIL, dan KORCAM meninggalkan praktik-praktik lama yang menurut dia tidak sesuai dengan transformasi dan tata kelola MBG. Ia menyinggung praktik “ngedit-ngedit uang” dan sembunyi-sembunyi yang disebutnya tidak boleh lagi terjadi.
“Ini menyangkut nyawa dan kesehatan seseorang. Sudah cukup lah, percayalah pada pimpinanmu, percayalah pada kami. Apapun yang kami lakukan itu tidak untuk menyeksamu, bukan, tapi semata-mata kami lakukan ini untuk perbaikan, transformasi, tata kelola MBG yang baik di hari-hari ke depan,” kata Sudaryono.










