Menuju 100 Tahun RI, Ahmad Muzani Sentil Dampak Perang Global: Bensin Naik, Mahasiswa Jangan Cuma Main Gawai!

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani/Muhammadiyah

BULELENG, Generasi.co — Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, memberikan peringatan keras kepada generasi muda mengenai urgensi kesiapan memimpin negara menjelang momentum 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 2045 mendatang. Di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin memanas, mahasiswa dinilai akan menjadi penentu arah kapal besar Indonesia agar tidak karam dihantam krisis eksternal.

Pesan bernada pembakar semangat tersebut disampaikan Muzani saat menyampaikan kuliah umum kebangsaan di Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Buleleng, Bali, Jumat (15/5/2026). Ia mendesak mahasiswa sebagai pemegang estafet kepemimpinan untuk mutlak memahami konstitusi, akar budaya, dan landasan bernegara.

Tumpuan Indonesia Emas 2045

Muzani menjelaskan bahwa potret jajaran pemimpin Indonesia pada tahun 2045 ditentukan oleh kualitas mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan hari ini. Oleh karena itu, persiapan ideologis tidak boleh ditawar lagi.

  • Penentu Masa Depan: Saat Indonesia genap berusia satu abad, mahasiswa saat ini diproyeksikan telah menduduki posisi-posisi strategis kepemimpinan bangsa.
  • Kriteria Pemimpin: Indonesia membutuhkan nakhoda yang tidak buta terhadap sejarah, paham hukum tertinggi negara, dan memegang teguh jati diri bangsa.

“Ketika Indonesia berumur 100 tahun, mahasiswa hari ini akan menjadi pemimpin bangsa. Karena itu saudara-saudara adalah tumpuan kita semua. Kami harus memastikan bahwa Indonesia 100 tahun yang akan datang jatuh kepada para pemimpin yang mengerti tentang dasar negara, konstitusi negara, dan budaya bangsa,” tegas Muzani di hadapan civitas akademika IMK Singaraja.

Refleksi Sejarah: Perekat Bernama Bahasa Indonesia

Dalam sela-sela kuliah umumnya, politisi senior Partai Gerindra ini mengajak mahasiswa menengok kembali lembaran sejarah perjuangan bangsa. Ia mengingatkan bahwa kekuatan utama Indonesia sejak awal abad ke-19 bukanlah persenjataan, melainkan solidaritas dan persatuan nasional.

  • Rasa Senasib: Fondasi kebangsaan Indonesia lahir dari rasa senasib akibat penindasan kolonialisme Belanda.
  • Alat Pemersatu: Pasca-era perjuangan fisik, Bahasa Indonesia muncul sebagai instrumen perekat yang luar biasa magis.

“Bahasa Indonesia menjadi perekat kebangsaan kita. Pergi ke Papua, Sumatera, atau pedalaman Jawa sekalipun, orang tetap bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia,” cetus Muzani menggarisbawahi pentingnya merawat persatuan.

Sentil Geopolitik: Efek Perang Dunia Nyata Sampai ke Pasar Domestik

Lebih lanjut, Muzani membeberkan realitas pahit mengenai kondisi global saat ini yang sedang berada dalam fase penuh ancaman akibat rentetan konflik bersenjata yang meluas di berbagai belahan bumi, mulai dari Timur Tengah hingga Eropa.

Ia menegaskan, dampak destruktif dari perang tersebut tidak lagi berjarak ribuan kilometer, melainkan sudah memukul langsung kehidupan dapur masyarakat Indonesia dalam bentuk inflasi.

  • Persoalan Energi: Perang global memicu lonjakan harga bensin dan komoditas energi internasional.
  • Efek Domino: Kenaikan harga bahan bakar secara otomatis mengerek naik harga-harga kebutuhan pokok di pasar domestik, yang membuat beban hidup masyarakat kian berat.

“Kita sekarang hidup dalam suasana yang berat. Perang telah melahirkan berbagai macam persoalan. Harga bensin naik yang menyebabkan harga-harga jadi naik. Perang telah menyebabkan kebutuhan-kebutuhan kita menjadi sulit, dan itu semua harus kita hadapi karena seluruh dunia menghadapi situasi itu,” urainya gamblang.

Bijak Bergawai di Era Digital

Menutup pemaparannya, Ketua MPR RI juga memberikan catatan kritis terkait gaya hidup generasi muda di era digital. Di zaman di mana informasi mengalir tanpa batas, Muzani meminta mahasiswa membalikkan fungsi gawai (smartphone) dari sekadar alat hiburan menjadi senjata peningkatan kapasitas diri.

Mahasiswa dituntut adaptif dan tidak sekadar menjadi konsumen atau pengguna teknologi yang pasif, melainkan mampu mengeksploitasi teknologi digital untuk melahirkan inovasi dan kemandirian ekonomi.