Pemerintah Cairkan Tambahan Rp20 Triliun untuk BPJS Kesehatan

Ilsutrasi Rumah Sakit/UPT RSKD Dadi Makassar

Generasi.co, Jakarta – Pemerintah akan mencairkan tambahan dana APBN sebesar Rp20 triliun untuk BPJS Kesehatan dalam dua tahap pada Oktober dan November 2026.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan Rp10 triliun akan dicairkan pada Oktober, sedangkan Rp10 triliun sisanya pada November. Dana tersebut diberikan untuk memperkuat kondisi keuangan penyelenggara Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Suahasil menyampaikan hal itu seusai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Senin.

Tambahan dana tersebut berada di luar anggaran sekitar Rp47 triliun yang digunakan pemerintah untuk membayar iuran 96,8 juta peserta penerima bantuan iuran (PBI).

“Ini adalah tambahan di luar anggaran untuk membayari 96,8 juta penerima bantuan iuran. Itu kira-kira kalau yang penerima bantuan iuran anggarannya kira-kira Rp47 triliunan,” kata Suahasil.

Ia mengatakan pencairan tambahan Rp20 triliun akan dilakukan untuk mendukung kondisi keuangan BPJS Kesehatan.

“Sementara, tambahannya itu sekarang Rp20 triliun dan akan segera dicairkan untuk mendukung keuangan BPJS pada bulan Oktober ini, artinya dua hari lagi, dan juga bulan November sehingga nanti keuangan BPJS akan tertutupi dengan baik,” ujarnya.

Suahasil juga mendorong BPJS Kesehatan meningkatkan pengumpulan iuran dan memperbaiki ketepatan sasaran penerima bantuan iuran.

“Kami mendorong supaya pengumpulan iuran BPJS menjadi lebih baik, tingkat ketepatan sasaran dari penerima bantuan iuran juga menjadi lebih baik sesuai dengan data DTKS,” katanya.

BPJS Kesehatan saat ini mencatat jumlah peserta sekitar 285 juta jiwa dengan tingkat keaktifan 80,6 persen.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito mengatakan iuran yang berhasil dihimpun hingga saat ini mencapai Rp118 triliun. Sementara itu, manfaat pelayanan kesehatan yang harus dibayarkan mencapai Rp132 triliun.

Dengan demikian, terdapat selisih arus kas sekitar Rp14 triliun antara penerimaan iuran dan pembayaran manfaat pelayanan kesehatan.

“Jadi ini ada kesenjangan arus kas untuk kita tetap bisa membayar pelayanan kesehatan yang sudah dilakukan oleh teman-teman di fasilitas kesehatan,” kata Prihati.

Prihati mengapresiasi tambahan dana Rp20 triliun dari pemerintah karena membantu BPJS Kesehatan menjaga pembayaran pelayanan kesehatan kepada fasilitas kesehatan.

“Kami berterima kasih kepada Bapak Presiden, pemerintah, Pak Menteri, telah diberikan suntikan dana sebesar Rp20 triliun,” ujarnya.

Prihati juga mengatakan terdapat sekitar 52 juta peserta BPJS Kesehatan yang tidak aktif membayar iuran.

Menurut dia, apabila seluruh peserta tersebut kembali aktif membayar iuran, potensi penerimaan dengan menggunakan besaran iuran kelas III mencapai sekitar Rp2 triliun per bulan atau Rp24 triliun dalam setahun.

Tambahan anggaran Rp20 triliun tersebut telah disiapkan pemerintah sejak beberapa bulan lalu. Namun, pencairannya masih menunggu penyelesaian regulasi.

Pada Juni 2026, pemerintah menyatakan dana tersebut baru dapat dicairkan setelah regulasi yang menjadi dasar penyalurannya diselesaikan.