Sowan ke Ponpes Watucongol, Wamentan Sudaryono Pastikan Keran Impor Beras Tertutup Rapat

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/IG

Magelang, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Darussalam Timur Watucongol, Jawa Tengah. Dalam pertemuan istimewa bersama pengasuh pesantren, Gus Ali, Sudaryono membawa laporan positif terkait ketahanan pangan nasional: Indonesia sukses mempertahankan status swasembada pangan yang dicapai pada 2025 dan resmi menutup keran impor beras.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sudaryono melalui akun Instagram pribadinya baru-baru ini. Ia menegaskan bahwa setelah ketersediaan karbohidrat utama masyarakat terjamin, fokus pemerintah kini bergeser pada peningkatan kualitas gizi.

“Kita patut berbangga, keran impor beras telah tertutup rapat. Saat ini, fokus Kementerian Pertanian beralih pada pemenuhan protein hewani macam telur serta daging ayam demi mendongkrak mutu gizi masyarakat,” terang Sudaryono dalam unggahannya.

Rangkul Ulama dan Buka Ruang Kritik

Meski mencatatkan capaian positif, Sudaryono menyadari bahwa Kementerian Pertanian tidak bisa bekerja sendirian dalam menjaga stabilitas pangan nasional. Ia secara khusus meminta koreksi, masukan, serta doa dari para ulama dan kiai.

Menurutnya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, melainkan jangkar sosial yang memiliki pengaruh kuat dalam menangkap dan menyambung aspirasi umat di akar rumput.

Lebih lanjut, momen sowan tersebut juga dimaknai Sudaryono sebagai pengingat untuk tetap bersikap arif dalam menghadapi rintangan birokrasi maupun pelayanan publik. Ia menyelipkan pesan tegas mengenai pentingnya memiliki mental kepemimpinan yang tanggap dan terbuka terhadap kritik.

Berikut adalah tiga poin reflektif yang ditekankan Wamentan dalam kunjungannya:

  • Fokus pada Solusi: “5 masalah bukan berarti semuanya bermasalah, tugas kita membenahi sisi buruknya.”
  • Anti-Antikritik: “Kita seutuhnya harus berani mendengar kritik lalu bergerak cepat membawa perbaikan menyeluruh tanpa banyak alasan.”
  • Aksi Nyata: “Berhenti meratapi kekurangan, turun tangan membenahi keadaan.”

Langkah Wamentan merangkul tokoh agama ini dinilai sebagai strategi komunikasi publik yang efektif untuk memastikan kebijakan sektor pertanian, khususnya transisi fokus dari karbohidrat ke protein hewani, mendapat dukungan penuh dari elemen masyarakat luas.