Genjot Potensi Lokal Sulawesi, BRI Fokus Kembangkan Ekosistem Klaster Kakao, Kacang Tanah, dan Cengkeh

Momentum Earth Hour, BRI Dorong Keberlanjutan Melalui Aksi Nyata di Lingkungan Kerja/Ist.

Makassar — Generasi.co — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) terus memacu pengembangan ekosistem klaster komoditas unggulan di wilayah Sulawesi. Langkah strategis ini difokuskan pada tiga komoditas utama hasil bumi, yakni kakao, kacang tanah, dan cengkeh, guna mendongkrak perekonomian daerah dan memperluas jangkauan pasar para pelaku UMKM.

Regional CEO BRI Regional 15 Makassar, Argo Prabowo, menjelaskan bahwa mayoritas klaster usaha binaan BRI di wilayahnya bergerak di sektor produksi, dengan dominasi kuat pada sektor pertanian.

Tiga Komoditas Utama Binaan BRI di Sulawesi

Guna memberikan pendampingan yang tepat sasaran, BRI memetakan sentra produksi berdasarkan keunggulan masing-masing daerah. Berikut adalah rincian fokus klaster komoditas yang tengah digenjot:

KomoditasLokasi Sentra Produksi UtamaFokus Pengembangan Ekosistem
KakaoKabupaten Luwu (Sulawesi Selatan)Peningkatan produktivitas, kualitas standar ekspor, dan kepastian rantai pasok global.
Kacang TanahDesa Nepo, Kab. Barru (Sulawesi Selatan)Hilirisasi produk menjadi camilan siap konsumsi berskala nasional.
CengkehKolaka Utara (Sultra), Enrekang & Sinjai (Sulsel)Penguatan kualitas hasil panen perkebunan dan perluasan akses pasar.

Kolaborasi Eksportir Kakao dan Hilirisasi Kacang Tanah

Untuk memajukan komoditas kakao, BRI telah mengambil langkah maju dengan menggandeng PT Comextra Majora di Kabupaten Luwu Timur. Kerja sama dengan perusahaan produsen sekaligus eksportir komoditas perkebunan ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok (supply chain) dari petani lokal ke pasar global.

“Kerja sama dengan PT Comextra Majora dilakukan guna memberi kepastian pasar bagi hasil tani masyarakat. Upaya ini sekaligus menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara sektor jasa keuangan dan sektor riil melalui pola kemitraan terpadu,” jelas Argo Prabowo.

Sementara pada komoditas kacang tanah, BRI berhasil mendorong praktik hilirisasi produk pertanian melalui program Desa BRILiaN di Desa Nepo, Kabupaten Barru. Hasil bumi yang sebelumnya hanya dijual secara mentah kini berhasil diolah menjadi produk camilan siap saji yang mampu bersaing di pasar nasional. Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan komprehensif BRI yang meliputi pelatihan pemasaran, perbaikan packaging, hingga digitalisasi usaha.

Capaian Program Desa BRILiaN dan Tiga Pilar Utama

Selain pemberdayaan spesifik per komoditas, BRI aktif membentuk ekosistem perdesaan yang terintegrasi melalui program Desa BRILiaN. Beberapa desa percontohan yang telah berjalan sukses antara lain Desa Tompobulu (Pangkep), Desa Nepo (Barru), Desa Bontominasa (Bulukumba), dan Desa Batupute (Barru).

Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto, menekankan bahwa intervensi dan pemberdayaan yang diberikan BRI menyentuh aspek-aspek fundamental, mulai dari pelatihan manajemen usaha hingga sosialisasi dan fasilitasi sertifikasi halal.

Hingga saat ini, penetrasi pemberdayaan di wilayah kerja BRI Regional Office (RO) Makassar—yang meliputi Provinsi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku—telah mencatatkan angka capaian yang signifikan:

  • Terbentuknya 2.800 klaster usaha binaan.
  • Terbentuknya 528 Desa BRILiaN.

Ke depannya, BRI berkomitmen untuk terus mereplikasi model ekosistem ini demi memberdayakan ribuan pelaku UMKM dengan berpegang teguh pada tiga pilar utama: perluasan akses permodalan, pelatihan manajemen bisnis yang berkelanjutan, serta fasilitasi akses pemasaran yang lebih luas.