“Saya Tanggung Jawab Kalau Bangsa Ini Lapar!” Tegas Prabowo Tolak Pangan Sekadar Komoditas

Presiden Prabowo Subianto melakukan groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri serta launching operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

NGANJUK, Generasi.co — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali melontarkan pernyataan tajam terkait filosofi ketahanan pangan nasional. Ia secara tegas menolak pandangan pragmatis yang menganggap urusan pangan sekadar angka ekonomi, efisiensi harga, atau komoditas dagang semata. Bagi Prabowo, pangan adalah urusan hidup dan matinya sebuah kedaulatan.

Pernyataan keras ini disampaikan Kepala Negara saat meresmikan operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (15/5/2026).

Pertaruhan Nyawa dan Tanggung Jawab Pemimpin

Di hadapan masyarakat dan jajaran pemerintahan, Prabowo memposisikan dirinya sebagai pihak yang memegang beban paling berat jika terjadi krisis pangan di Tanah Air. Ia menolak pendekatan impor yang kerap dilakukan hanya demi mencari harga murah, terutama di tengah ketidakpastian global yang bisa berujung pada hilangnya kemandirian bangsa.

  • “Selalu saya katakan, pangan adalah masalah hidup dan mati suatu bangsa. Saya tidak memandang pangan sebagai sekadar komoditas,” tegas Presiden.
  • “Saya yang bertanggung jawab kalau bangsa ini lapar. Saya yang bertanggung jawab!” tambahnya.

Pandangan fundamental ini, diakui Prabowo, berakar dari pengalaman panjangnya sebagai komandan pasukan tempur di militer. Ia mengilustrasikan bahwa secanggih apa pun persenjataan sebuah negara, hal itu tidak akan ada gunanya tanpa ketersediaan logistik.

“Sebelum kita berangkat operasi, kita cek berapa beras yang kita punya. Kalau pasukan tidak ada beras, kalau pasukan tidak makan, tidak bisa perang,” ucapnya menganalogikan.

Pecah Rekor Swasembada dan Antrean Negara Pembeli

Dalam kesempatan krusial tersebut, Presiden membagikan kabar membanggakan mengenai progres ketahanan pangan. Ia memberikan apresiasi khusus kepada jajaran Kementerian Pertanian yang berhasil menembus target swasembada jauh lebih cepat dari tenggat waktu.

“Saya beri tugas ke Menteri Pertanian dan semua timnya. Saya minta swasembada dalam empat tahun. Mereka bisa hasilkan dalam satu tahun. Saya terima kasih,” puji Kepala Negara.

Imbas dari surplus pangan dan stabilitas produksi ini membuat posisi geopolitik Indonesia semakin diperhitungkan. Di saat banyak negara melakukan pembatasan ekspor akibat krisis pangan global, Indonesia justru kebanjiran permintaan.

“Sekarang banyak negara minta beli beras dari kita. Minta beli beras dari kita,” ungkap Prabowo.

Instruksi Tegas: Utamakan Rakyat, Tolak Mental Rendah Diri

Meski banyak negara yang antre untuk membeli beras Indonesia, Prabowo memberikan instruksi yang sangat jelas kepada jajaran kabinetnya. Kepentingan dan kesejahteraan rakyat Indonesia harus selalu menjadi prioritas absolut sebelum mengejar keuntungan dari pasar ekspor.

  • “Jangan nyetop (ekspor), tapi jangan jual terlalu murah. Ingat, krisis bisa lama ini. Yang utama kita amankan rakyat kita dulu,” instruksi Presiden.

Menutup pidatonya, Prabowo menyerukan kebangkitan mentalitas bangsa. Keberhasilan mencetak swasembada dalam waktu satu tahun menjadi bukti empiris bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri tanpa harus bergantung pada negara lain.

“Kita juga harus berani untuk mengiklankan diri kita sendiri. Bukan mengiklankan kebohongan, tapi kebenaran,” tutup Presiden, mengajak seluruh elemen bangsa membuang jauh-jauh mental inferior atau rasa rendah diri.