Jakarta, Generasi.co — Menteri Koperasi (Menkop), Ferry Juliantono, menyoroti ironi di sektor pertanian Indonesia di mana produk berkualitas kerap anjlok nilainya hanya karena minimnya fasilitas pascapanen. Merespons kondisi tersebut, ia mendorong adanya intervensi teknologi dan hilirisasi guna menyelamatkan potensi ekonomi rakyat yang selama ini terbuang sia-sia.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya baru-baru ini, Ferry membeberkan realitas pahit yang kerap dihadapi para petani di lapangan. Salah satu contoh utamanya adalah penanganan gabah kering panen yang mutlak membutuhkan mesin pengering (dryer) agar kualitasnya tetap terjaga dan harga jualnya bisa meningkat tajam.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas hortikultura. “Buah dan sayuran yang sebenarnya berkualitas tinggi sering jatuh nilainya hanya karena tidak tersedia alat pengatur suhu atau controlled atmosphere storage. Tanpa dukungan teknologi pascapanen, potensi besar itu terbuang percuma,” tegas Ferry menggarisbawahi akar permasalahannya.
Ajak Kemenperin Rintis Industri Pengolahan Skala Kecil
Untuk memutus rantai kerugian tersebut, Menkop tidak ingin bergerak sendiri. Ia secara terbuka mengajak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk turun tangan dan berkolaborasi merintis tumbuhnya industri pengolahan di sentra-sentra pertanian.
Menurut Ferry, inisiatif ini tidak harus selalu dimulai dengan membangun pabrik berskala raksasa. Kehadiran industri pengolahan level mikro atau kecil yang dikelola langsung oleh koperasi dan kelompok tani justru lebih relevan untuk saat ini.
“Tidak apa-apa levelnya industri kecil, yang penting memberi dampak nyata,” ujarnya.
Buka Ruang Produktif bagi Milenial dan Gen Z
Lebih jauh, Menkop memproyeksikan bahwa modernisasi alat pascapanen ini akan memicu efek domino (multiplier effect) yang positif bagi roda perekonomian desa. Dengan menghadirkan mesin pengolahan dan fasilitas penyimpanan yang memadai, nilai tambah produk pertanian rakyat akan otomatis melonjak.
Selain mendongkrak kesejahteraan petani, hilirisasi skala kecil ini juga dinilai mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan saat ini.
“Kita bukan hanya meningkatkan nilai tambah produk rakyat, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, khususnya bagi generasi milenial dan Gen Z yang hari ini membutuhkan ruang produktif,” pungkas Ferry.










