SINGAPURA, 7 OKTOBER 2026 — Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mendorong penguatan kolaborasi Indonesia dan Singapura dalam memperluas konektivitas pasar modal, meningkatkan kepercayaan investor global, dan membuka lebih banyak peluang investasi lintas negara.
Pesan tersebut disampaikan Ibas dalam pertemuan dan diskusi strategis bersama jajaran Singapore Exchange (SGX) Group di SGX Centre, Singapura, Rabu (7/10/2026). Pertemuan bersama Head of Global Financial Markets SGX Group, Mr. Ng Yao Loong, tersebut membahas perkembangan dan transformasi SGX, dinamika pasar modal Indonesia dan Singapura, peluang investasi lintas batas, serta langkah-langkah yang dapat memperkuat hubungan antara pelaku pasar modal Indonesia dan ekosistem keuangan internasional.
Ibas menilai Indonesia dan Singapura memiliki potensi kerja sama yang besar. Singapura memiliki posisi strategis sebagai pusat keuangan internasional, sementara Indonesia memiliki basis pasar domestik yang besar, sumber daya, peluang pertumbuhan, dan perusahaan dari berbagai sektor ekonomi.
“Indonesia dan Singapura bukan hanya negara tetangga yang dekat secara geografis, tetapi juga mitra yang memiliki peluang besar untuk tumbuh bersama. Kita perlu memperkuat koneksi antara perusahaan Indonesia dan modal global, sekaligus membantu investor internasional memahami potensi dan peluang di Indonesia dengan lebih baik,” kata Ibas.
Menurutnya, peluang investasi yang besar harus didukung oleh konektivitas yang efektif. Perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan perlu memiliki akses terhadap informasi, riset, jaringan investor, dan sumber pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Karena itu, kerja sama antara Indonesia dan Singapura tidak seharusnya hanya berfokus pada pencatatan saham atau transaksi investasi. Kolaborasi juga dapat dikembangkan melalui edukasi investor, penguatan riset pasar, peningkatan standar tata kelola perusahaan, investasi lintas negara, pengembangan teknologi, energi, infrastruktur, dan pembiayaan jangka panjang.
“Yang kita cari bukan sekadar bertambahnya transaksi. Kita ingin membangun hubungan pasar yang lebih kuat, memperluas pemahaman antara investor dan perusahaan, serta membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi perekonomian kedua negara,” tambahnya.
Tata Kelola dan Kepercayaan Menjadi Fondasi Pasar Modal
Dalam diskusi tersebut, Ibas juga menekankan pentingnya stabilitas, kepastian hukum, disiplin pasar, dan tata kelola yang baik sebagai fondasi untuk membangun kepercayaan investor.
Menurutnya, dinamika pasar keuangan global menunjukkan bahwa pasar dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Oleh karena itu, pengembangan pasar modal tidak dapat hanya mengandalkan optimisme terhadap pertumbuhan, tetapi juga memerlukan sistem pengawasan yang efektif, informasi yang transparan, dan penegakan aturan yang konsisten.
“Kepercayaan adalah salah satu modal terpenting dalam pasar keuangan. Investor membutuhkan informasi yang akurat, tata kelola yang baik, kepastian hukum, dan keyakinan bahwa aturan diterapkan secara konsisten. Karena itu, penguatan sistem pengawasan, disiplin pasar, dan integritas pelaku pasar harus menjadi perhatian bersama,” tegas Ibas.
Ia menambahkan, pengawasan terhadap perilaku perantara pedagang efek, pencegahan praktik yang merugikan investor, dan peningkatan kualitas informasi perusahaan merupakan bagian penting dari upaya membangun pasar modal yang sehat dan berkelanjutan.
Bagi Ibas Yudhoyono, pasar modal yang kuat bukan hanya diukur dari aktivitas transaksi atau pergerakan indeks saham, melainkan juga dari kualitas perusahaan yang tercatat, kredibilitas informasi, perlindungan investor, dan kemampuan pasar menyalurkan modal ke sektor-sektor produktif.
Memperluas Peluang bagi Perusahaan dan Sektor Ekonomi Baru
Ibas juga menyoroti pentingnya memperluas akses pembiayaan bagi perusahaan dari berbagai skala dan sektor, tidak terbatas pada perusahaan besar yang telah memiliki akses luas terhadap pasar keuangan.
Menurutnya, perusahaan di sektor teknologi, telekomunikasi, energi, infrastruktur, dan berbagai bidang ekonomi produktif lainnya memerlukan ekosistem pembiayaan yang mampu mendukung inovasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja.
Penguatan konektivitas pasar modal Indonesia–Singapura dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas jaringan investor dan membuka alternatif pembiayaan bagi perusahaan yang memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang baik.
Dalam konteks tersebut, Ibas juga memandang pentingnya membangun sinergi antara investor, perusahaan Indonesia, ekosistem startup, dan lembaga investasi, termasuk dalam peluang kolaborasi regional yang dapat melibatkan Danantara.
Ia menekankan bahwa kerja sama investasi harus diarahkan pada penciptaan nilai jangka panjang, penguatan kapasitas perusahaan, dan pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Potensi investasi harus diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi yang produktif. Kita ingin melihat lebih banyak perusahaan yang bertumbuh, inovasi yang berkembang, lapangan kerja yang tercipta, dan kerja sama yang memperkuat daya saing Indonesia di tingkat regional maupun global,” ujarnya.
Akses Startup dan Integritas Pasar Jadi Perhatian
Dalam diskusi, Anggota MPR RI Dr. Hillary Brigita Lasut menyoroti tantangan menjaga kepercayaan pasar di tengah penguatan regulasi. Ia menekankan pentingnya membedakan antara tindakan misconduct dan keputusan bisnis yang diambil dengan itikad baik. Hillary juga menggali pengalaman SGX terkait kriteria perusahaan dalam skema percepatan serta peluang memperluas akses startup Indonesia terhadap ekosistem pendanaan di Singapura.
Sementara itu, Founder & CIO Stockwise, Andry Hakim, melihat peluang besar untuk memperdalam kemitraan Indonesia–Singapura dengan menghubungkan bisnis dengan modal dan investor dengan peluang pertumbuhan. Menurutnya, kerja sama dapat diarahkan pada tiga prioritas, yaitu memperluas akses investasi lintas batas, memperkuat transparansi dan integritas pasar, serta mengembangkan produk investasi yang merefleksikan masa depan kawasan, termasuk di bidang infrastruktur, jasa keuangan, konektivitas digital, dan transisi energi.
Menurut Andry, kerja sama tersebut pada akhirnya perlu diarahkan pada terciptanya akses terhadap modal produktif dan jangka panjang bagi perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara.
Memperkuat Kerja Sama Regional dan Pertumbuhan Berkelanjutan
Dalam tanggapannya pada akhir pertemuan, Ibas menyampaikan apresiasi atas pertukaran pandangan dan diskusi mendalam bersama tim SGX serta delegasi Indonesia.
Ia menilai dialog antara pemangku kepentingan dari sisi kebijakan, regulasi, investor, analis, dan bursa efek penting untuk membangun pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai tantangan dan peluang pasar modal.
Ibas juga menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan regulasi, perkembangan teknologi, dan dinamika investasi internasional, tanpa mengabaikan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan investor.
Dari pihak SGX, Senior Vice President SGX RegCo, Mr. John Lim, menilai terdapat peluang untuk memperkuat konektivitas sumber modal di kawasan Asia Tenggara. Menurutnya, kerja sama Indonesia dan Singapura dapat dikembangkan melalui peningkatan akses lintas batas, produk investasi regional, serta penguatan transparansi dan integritas pasar.
John Lim juga menyoroti pentingnya memperluas akses perusahaan-perusahaan Asia Tenggara terhadap modal untuk tumbuh dan berkembang. Salah satu peluang yang dibahas adalah pengembangan produk investasi berbasis kawasan, seperti ETF yang menghimpun perusahaan dari berbagai negara atau sektor di Asia Tenggara. Penguatan konektivitas tersebut juga dapat berjalan melalui pengembangan dual listing, IPO lintas pasar, serta produk investasi yang memberikan investor akses lebih mudah terhadap peluang di kawasan.
Bagi Dr. EBY, hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura memiliki ruang yang luas untuk terus dikembangkan, khususnya dalam sektor keuangan dan pasar modal. Lulusan Curtin University Perth tersebut memandang penguatan konektivitas pasar modal sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara sekaligus memperluas akses perusahaan Indonesia terhadap modal global.
Setelah menempuh pendidikan Master of Science in International Political Economy di Nanyang Technological University (NTU), EBY menilai dialog lintas negara seperti yang dilakukan di SGX penting untuk terus memperluas pemahaman, membangun kepercayaan, dan mencari ruang kolaborasi yang lebih konkret.
“Indonesia dan Singapura memiliki kesempatan untuk membangun kerja sama yang semakin kuat. Dengan kepercayaan, komitmen, tata kelola yang baik, dan kemauan untuk terus beradaptasi, kita dapat mendorong pasar keuangan yang lebih sehat dan menciptakan manfaat bagi perekonomian kawasan serta masyarakat luas,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat dialog dan konektivitas antara ekosistem pasar modal Indonesia dan Singapura, sekaligus mendorong terciptanya peluang investasi yang transparan, produktif, dan berorientasi jangka panjang.
Dalam agenda tersebut, turut hadir mendampingi Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Edhie Baskoro Yudhoyono, B.Com., M.Sc., yakni H. Fathi, Anggota MPR RI; Dr. Hillary Brigita Lasut, S.H., LL.M., Anggota MPR RI; Andry Hakim, Founder & CIO Stockwise; Dr. David Sutyanto, S.E., M.M., CSA, CES, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI); Renanda Bachtar; Jansen Sitindaon; Ilham Mendrofa; dan Gana Febrana, Tenaga Ahli Edhie Baskoro Yudhoyono.
Sementara itu, dari pihak Singapore Exchange (SGX) Group hadir Mr. Ng Yao Loong, Head of Global Financial Markets; Mr. Chew Chin Yee, Managing Director SGX RegCo; Ms. Serene Cai, Executive Director, Equities; Mr. John Lim, Senior Vice President, SGX RegCo; Mr. Adriel Low, Senior Vice President, Global Financial Markets; serta Ms. Bernice Tan, Vice President, Equities.










