Jakarta, Generasi.co — Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York mengeluarkan kecaman keras menyusul eskalasi serangan di Lebanon yang kembali merenggut nyawa anggota Pasukan Sementara PBB (UNIFIL) asal Indonesia. Dalam rentang waktu kurang dari 48 jam, total tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dipastikan gugur dalam dua insiden mematikan yang terpisah.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, secara terbuka mengutuk serangan yang terus menargetkan pasukan “Helm Biru” di zona konflik tersebut.
Ledakan Hantam Konvoi Logistik
Insiden mematikan terbaru terjadi pada Senin (30/3/2026). Lacroix mengonfirmasi bahwa iring-iringan kendaraan pasukan perdamaian menjadi target serangan di sektor timur Lebanon.
“Dua pasukan penjaga perdamaian Indonesia kehilangan nyawa dalam ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL, menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan. Dua pasukan penjaga perdamaian lainnya terluka, satu di antaranya luka serius,” tegas Lacroix di Markas PBB, Selasa (31/3/2026).
Lacroix menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian beroperasi di bawah mandat Dewan Keamanan PBB dan sama sekali tidak boleh dijadikan sasaran militer oleh pihak mana pun.
Gugurnya Praka Farizal Akibat Gempuran Artileri
Tragedi ledakan konvoi tersebut terjadi hanya sehari setelah gempuran maut pada Minggu (29/3/2026). Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengonfirmasi jatuhnya korban jiwa pertama akibat tembakan proyektil artileri yang meledak di sekitar posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan.
Dalam insiden hari Minggu tersebut, Praka Farizal Rhomadhon dipastikan gugur saat menjalankan tugasnya.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, membenarkan bahwa serangan artileri itu juga melukai tiga prajurit lainnya, yakni Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
“Ketiga personel yang terluka telah dievakuasi ke fasilitas medis. Praka Rico yang mengalami luka berat telah diungsikan ke Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan perawatan intensif,” jelas Mayjen Aulia.
Penyelidikan Berlangsung
Lacroix menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga prajurit yang gugur serta kepada Pemerintah Indonesia. Saat ini, UNIFIL tengah menggelar penyelidikan menyeluruh untuk mengusut tuntas pihak di balik rentetan serangan tragis ini.
Diplomat asal Prancis itu juga menyerukan agar semua tindakan yang membahayakan nyawa penjaga perdamaian segera dihentikan. Berdasarkan catatan UN Peacekeeping per Januari 2026, Indonesia merupakan salah satu kontributor personel terbesar dengan menyiagakan 756 anggota di bawah bendera UNIFIL Lebanon.










