Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk menambah anggaran dana riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun. Dengan penambahan ini, total dana riset nasional kini membengkak menjadi Rp12 triliun.
Keputusan strategis tersebut diambil Prabowo secara langsung saat menggelar pertemuan dengan ribuan rektor dan guru besar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/01).
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa awalnya dilaporkan dana riset perguruan tinggi hanya berada di angka Rp8 triliun, atau setara 0,34 persen dari APBN. Angka tersebut dinilai belum cukup untuk menopang ambisi besar negara.
“Oleh karena itulah dalam forum tadi, Bapak Presiden langsung memutuskan memberikan tambahan dana anggaran sebesar Rp4 triliun, yang harapannya ini dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan.
Riset untuk ‘Backup’ 18 Proyek Danantara
Penambahan dana ini bukan tanpa syarat. Pemerintah meminta fokus riset diarahkan pada kebutuhan strategis: swasembada pangan, swasembada energi, serta hilirisasi industri.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menambahkan, riset kampus harus menjadi tulang punggung bagi 18 proyek strategis nasional yang akan segera dimulai (groundbreaking) tahun ini di bawah komando Danantara.
“Tadi sesuai arahan bahwa kita akan membangun cukup banyak industri yang akan dilokomotifi oleh Danantara, mulai dari industri waste to energy, hilirisasi mineral pangan, dan sebagainya. Tadi ada 18 proyek strategis,” jelas Brian.
Brian menegaskan, pelibatan kampus sangat krusial agar kemandirian teknologi dalam proses hilirisasi industri nasional tetap terjaga dan tidak bergantung pada pihak asing.










