Jakarta, Generasi.co — Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono, menyoroti tajam ironi pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Tanah Air. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengkritik keras kebiasaan bangsa yang selama dua dekade terakhir terlalu terlena mengekspor komoditas mentah, membiarkan nilai tambah dan aliran uang mengalir deras ke luar negeri.
Sudaryono menegaskan, kekayaan alam yang melimpah justru kerap menjadi bumerang yang membuat Indonesia kurang berinovasi dalam sektor manufaktur atau pengolahan.
Tamparan Keras dari Jepang dan Korea Selatan
Sebagai perbandingan, Wamentan membeberkan realitas kontras antara Indonesia dengan negara-negara maju di Asia Timur. Ia mencontohkan Korea Selatan yang minim SDA namun mampu memproduksi empat juta unit mobil per tahun, serta Jepang yang sukses merajai industri otomotif global meski tidak memiliki tambang bauksit.
Kunci dari dominasi mereka adalah fokus absolut pada proses pengolahan manufaktur, bukan sekadar menggali dan menjual.
Sementara itu, Indonesia yang dikaruniai timah, bauksit, kelapa, kopi, hingga kakao berkualitas tinggi justru memilih jalan pintas dengan mengirimkannya secara mentah melintasi samudra.
“Pohon kelapa tumbuh subur pada pekarangan rumah kita, lalu di Amerika Serikat diolah menjadi kapsul kesehatan Virgin Coconut Oil (VCO) berharga sangat mahal. Petani memanen biji kopi terbaik, lalu kita duduk meminum seduhan merek Starbucks atau Nescafe. Kakao dipanen melimpah, namun pasar dipenuhi merek Cadbury,” sentil Sudaryono menjabarkan ironi hilirisasi di Indonesia.
Visi Prabowo: 100 Pabrik Pengolahan Baru
Untuk memutus rantai “kutukan” sumber daya alam ini, Sudaryono menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan transformasi besar-besaran menuju era industrialisasi.
Konsep transformasi ini menuntut pembangunan 100 pabrik pengolahan baru di dalam negeri. Langkah agresif ini diambil dengan dua tujuan utama:
- Menciptakan Lapangan Kerja Berkualitas: Menyediakan ruang kerja berkelas bagi pemuda-pemudi pintar Tanah Air agar tidak perlu mencari penghidupan di negara orang.
- Menahan Nilai Tambah: Memastikan keuntungan maksimal dari komoditas agribisnis dan tambang dinikmati penuh di dalam negeri, bukan oleh negara pengepul.
Berhenti Bangga Jadi Pengekspor Mentah
Di akhir pernyataannya, Wamentan menyerukan perubahan pola pikir (mindset) di seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan. Kemandirian ekonomi tidak akan pernah tercapai jika fondasinya masih bergantung pada bangsa lain untuk mengolah SDA milik sendiri.
“Bangsa merdeka harus mandiri secara ekonomi. Berhenti bangga saat mengirim komoditas mentah. Kita harus bangga memproduksi barang bernilai sangat tinggi,” pungkas Sudaryono.










