Kredit Tumbuh Agresif 18,9%, BNI Kantongi Laba Bersih Rp 3,41 Triliun di Awal 2026

BNI/BNI

Jakarta, Generasi.co — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan performa intermediasi yang solid pada awal tahun 2026. Laporan keuangan bank only per Februari 2026 menunjukkan perseroan sukses membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp 3,41 triliun, tumbuh 3,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Capaian positif ini ditopang oleh ekspansi penyaluran kredit yang tumbuh signifikan hingga dua digit, sejalan dengan peningkatan pendapatan bunga di tengah dinamika ekonomi nasional.

NII Tumbuh Solid, Meski Beban Pencadangan Melonjak

Motor utama pertumbuhan laba BNI didorong oleh pendapatan bunga yang menembus Rp 11,96 triliun (naik 14,01% yoy). Setelah dikurangi beban bunga sebesar Rp 5 triliun (naik 13,87% yoy), BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp 6,96 triliun, atau tumbuh 14,2 persen yoy.

Dari sisi operasional, perolehan komisi, provisi, dan administrasi (fee-based income) turut berkontribusi dengan kenaikan 10,89 persen yoy menjadi Rp 1,75 triliun. Namun, pertumbuhan laba operasional tertahan di level 4,9 persen yoy (Rp 4,13 triliun).

Laju laba operasional yang terbatas ini diakibatkan oleh lonjakan beban pencadangan (impairment) yang meroket hingga 51,91 persen yoy menjadi Rp 1,47 triliun. Hal ini memicu pembengkakan total beban operasional lainnya sebesar 31,14 persen yoy menjadi Rp 2,83 triliun.

Ekspansi Kredit dan Meroketnya Dana Pihak Ketiga (DPK)

Kinerja fungsi intermediasi BNI terakselerasi dengan sangat baik. Perseroan berhasil menyalurkan total kredit sebesar Rp 882,22 triliun per Februari 2026, melesat 18,9 persen yoy. Ekspansi agresif ini turut mendorong total aset bank melonjak 30,41 persen yoy, menyentuh angka impresif di Rp 1.390,45 triliun.

Di sisi liabilitas, likuiditas bank ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melesat 40,95 persen yoy menjadi Rp 1.092,24 triliun.

Struktur penghimpunan dana BNI didominasi oleh:

  • Giro: Rp 439,2 triliun (naik 47,07% yoy)
  • Deposito: Rp 376,15 triliun (melonjak 67,03% yoy)
  • Tabungan: Rp 276,9 triliun (tumbuh 10,27% yoy)

Berdasarkan laporan resmi perseroan, likuiditas BNI dinilai tetap longgar dan terjaga dengan rasio kredit terhadap DPK (Loan to Deposit Ratio/LDR) berada di posisi 123,81 persen. Pencapaian ini mempertegas ketahanan fundamental BNI dalam mengelola likuiditas secara optimal di kuartal pertama 2026.