Selat Hormuz Memanas, Sudaryono Kunci Jatah Petani dan Buka Keran Ekspor 1,5 Juta Ton Urea Berharga Fantastis

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono/IG

Jakarta, Generasi.co — Di tengah eskalasi konflik di Selat Hormuz yang melumpuhkan rantai pasok logistik dunia, Pemerintah Indonesia justru melihat celah emas. Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membeberkan manuver taktis pemerintah bersama Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) dalam meraup untung dari krisis suplai urea global, tanpa mengorbankan ketahanan pangan nasional.

Strateginya jelas: amankan kandang sendiri terlebih dahulu, lalu gempur pasar internasional dengan harga tinggi.

Jatah Petani Lokal Harga Mati

Sudaryono menegaskan bahwa benteng pertama ketahanan pangan dikendalikan langsung dari meja rapat PIHC. Ia memastikan bahwa lonjakan permintaan global tidak akan mengganggu alokasi pupuk bersubsidi untuk dalam negeri.

Bagi pemerintah, kebutuhan domestik adalah prioritas absolut yang tidak bisa ditawar oleh godaan harga ekspor setinggi apa pun.

“Urusan pasokan domestik wajib beres lebih dulu. Jatah petani lokal terkunci rapat. Tidak boleh diutak-atik. Titik,” tegas Sudaryono dengan nada lugas.

Manuver Cerdik di Tengah Krisis Suplai Global

Setelah urusan pasokan dalam negeri rampung, radar pemerintah langsung diarahkan pada kekacauan geopolitik global. Macetnya jalur logistik di Selat Hormuz membuat negara-negara bergantung pada pasokan alternatif. Di sinilah daya tawar (bargaining power) Indonesia melesat tajam.

Krisis ini memicu kepanikan di sejumlah negara raksasa agrikultur. Sudaryono mengungkapkan bahwa negara-negara seperti India, Filipina, hingga Australia langsung ‘menelepon’ Jakarta untuk meminta penyelamatan pasokan.

“Selesai urusan kandang, mata memandang peta dunia. Selat Hormuz panas. Jalur logistik tersumbat. Suplai urea global macet total. Di sinilah posisi tawar kita melesat,” bebernya.

Pemerintah saat ini memegang kendali atas 1,5 juta ton urea yang siap diekspor. Tingginya tingkat keputusasaan pasar global membuat negara-negara pemesan bersedia menebus pupuk produksi Indonesia berapapun harganya. “Angka penjualannya fantastis,” imbuh Sudaryono.

Pabrik Tua Batal Disuntik Mati

Ledakan permintaan ekspor ini membawa berkah tersendiri bagi aset-aset industri pupuk nasional. Demi memaksimalkan kapasitas produksi dan menyerap peluang (windfall profit) yang datang tiba-tiba ini, pemerintah mengambil keputusan radikal dengan menghidupkan kembali fasilitas produksi yang sebelumnya sudah masuk daftar afkir.

“Peluang datang tanpa permisi. Tangkap cepat. Mesin tua kembali beroperasi. Pabrik kita tadinya mau disuntik mati, nggak jadi. Nyalain lagi!” pungkas Sudaryono.

Langkah berani ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu bertahan di tengah ketidakpastian tatanan global, tetapi juga cerdik bermanuver menjadi pemain kunci yang menentukan arah ketahanan pangan dunia.