Sekali Dayung Dua Pulau Terlampaui, Bancassurance BRI Mulai Jadi Primadona Finansial Warga Bojonegoro

Momentum Earth Hour, BRI Dorong Keberlanjutan Melalui Aksi Nyata di Lingkungan Kerja/Ist.

Bojonegoro, Generasi.co — Kesadaran masyarakat di tingkat daerah terhadap pentingnya manajemen risiko finansial mulai menunjukkan tren positif. Di Kabupaten Bojonegoro, layanan bancassurance dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kini makin diminati warga sebagai solusi praktis yang menggabungkan fungsi tabungan sekaligus perlindungan asuransi.

Melalui kerja sama strategis dengan berbagai perusahaan asuransi, BRI mendobrak stigma bahwa mengurus asuransi itu rumit. Kini, layanan proteksi jiwa hingga kesehatan bisa diakses nasabah dalam satu atap, baik langsung di kantor cabang maupun melalui ekosistem digital BRI.

Praktis: Menabung Sambil Membeli “Payung” Keuangan

Minat yang terus tumbuh ini tercermin dari antusiasme nasabah di akar rumput. Siti Aminah (34), salah satu warga Bojonegoro, mengaku awalnya awam dengan istilah bancassurance. Namun, edukasi dari petugas bank mengubah perspektifnya.

“Awalnya saya kira cuma tabungan biasa, ternyata bisa sekalian dapat perlindungan asuransi. Jadi kalau ada risiko, keluarga juga lebih aman,” ujar Siti.

Kemudahan akses ini juga diakui sangat krusial bagi para pelaku sektor riil. Budi Santoso (41), seorang pelaku usaha mikro di Bojonegoro, menilai produk integrasi ini memangkas birokrasi dan waktu karena nasabah tidak perlu repot mendatangi kantor asuransi secara terpisah.

“Lebih praktis karena bisa sekalian saat ke bank. Apalagi kita yang punya usaha, butuh perlindungan juga. Jadi tidak hanya fokus cari uang, tapi juga jaga keamanan keuangan jangka panjang,” tegas Budi.

Tantangan Literasi: Butuh Edukasi Lebih Agresif

Merespons tren ini, pihak BRI terus menggenjot penetrasi literasi keuangan terkait bancassurance. Layanan ini dirancang dengan fleksibilitas tinggi, mencakup asuransi jiwa, kesehatan, hingga perlindungan aset, yang dapat disesuaikan dengan profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing nasabah.

Meski demikian, pekerjaan rumah perbankan belum sepenuhnya selesai. Warga berharap inklusi keuangan ini dibarengi dengan edukasi yang lebih masif agar tidak terjadi misinformasi atau misselling di lapangan.

“Menurut saya programnya sangat bagus, tapi perlu dijelaskan lebih detail lagi dari awal. Biar masyarakat tidak salah paham dan benar-benar tahu manfaat utamanya,” ungkap Ahmad Fauzi (29), warga Bojonegoro lainnya.

Dengan kurva kesadaran warga yang terus menanjak, layanan bancassurance diproyeksikan tidak lagi sekadar menjadi produk pelengkap, melainkan pilar utama dalam perencanaan keuangan masa depan yang aman, terarah, dan terintegrasi di Bojonegoro.