Jakarta, Generasi.co — Ledakan kasus campak yang terjadi sejak awal tahun 2026 menjadi tamparan keras bagi ketahanan sistem kesehatan nasional. Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, secara tegas membunyikan alarm darurat dan mendesak pemerintah serta masyarakat untuk segera membangun kesadaran kolektif demi menambal kebocoran kekebalan komunitas (herd immunity).
Penegasan tersebut disampaikan dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk Bahaya Penyakit Campak di Indonesia dan Upaya Penanggulangannya, Rabu (8/4/2026).
“Merebaknya kasus campak sejak awal tahun ini harus menjadi momentum bagi kita untuk membangun kesadaran bersama dalam merealisasikan pola hidup sehat masyarakat Indonesia. Kesadaran kolektif untuk hidup sehat harus konsisten dibangun mulai dari lingkup keluarga,” tegas Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie.
Kekebalan Komunitas Jebol Akibat Disinformasi
Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kekebalan tubuh masyarakat saat ini anjlok di bawah ambang batas aman (<95%). Penurunan drastis cakupan imunisasi Campak-Rubella (MR) ini dipicu oleh residu gangguan layanan medis akibat pandemi COVID-19, serta masifnya penyebaran misinformasi dan hoaks dari kaum anti-vaksin.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi, membeberkan bahwa puncak krisis terjadi pada pekan pertama 2026. Tercatat ada 2.932 suspek dan 2.220 kasus campak yang terkonfirmasi secara klinis.
“Peningkatan kasus campak dan suspek campak sudah mulai terlihat sejak akhir tahun 2025 dan baru menunjukkan penurunan pada pekan kedua Maret 2026,” urai Siti Nadia.
Sebagai manuver taktis, Kemenkes langsung mengeksekusi outbreak response immunization, yakni pemberian imunisasi tambahan secara sapu bersih tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, serta memperketat perlindungan bagi tenaga medis di fasilitas kesehatan.
Kebut Layanan Primer dan Sikat Kampanye Hitam
Kondisi darurat ini turut memantik respons keras dari kalangan medis. Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur WHO SEARO, Prof. Tjandra Yoga Aditama, bahkan mendesak adanya perluasan vaksinasi campak untuk orang dewasa guna menekan laju penularan.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, menyoroti rapuhnya layanan kesehatan primer (promotif-preventif) seperti Posyandu, yang membuat negara selalu kelabakan saat berhadapan dengan wabah.
Tantangan terberat saat ini justru datang dari ruang digital. Wartawan senior, Usman Kansong, mengungkap ironi adanya oknum dokter yang secara terbuka mengampanyekan narasi anti-vaksin di media sosial.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menuntut agar program imunisasi yang merupakan kewajiban pemerintah pusat dan daerah tidak boleh kalah oleh narasi menyesatkan. Pemerintah didesak segera melakukan intervensi edukasi publik untuk memberantas kampanye hitam yang membahayakan nyawa anak-anak Indonesia.










