Peringati Hari Seni Sedunia 2026 di Museum Gajah, Ibas Dorong Penguatan dan Pemajuan Seni Budaya Kreatif Sebagai Identitas Bangsa

Ibas menghadiri peringatan Hari Seni Sedunia 2026 di Museum Nasional dan mendorong pemajuan seni budaya kreatif sebagai identitas bangsa/MPR RI

Jakarta, Generasi.co — Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menyoroti urgensi perlindungan kekayaan intelektual pekerja seni sekaligus mendorong transformasi digital di sektor kebudayaan. Penegasan ini disampaikan Ibas saat menghadiri audiensi Hari Seni Sedunia bertajuk “Seni Budaya Kreatif sebagai Identitas Bangsa” di Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah), Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Di hadapan para pelaku seni, akademisi, dan pemangku kepentingan, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat tersebut menekankan bahwa kekayaan budaya Indonesia bukan sebatas warisan masa lalu, melainkan instrumen kekuatan ekonomi dan diplomasi di tingkat global.

“Indonesia memiliki potensi luar biasa dalam seni dan budaya, dari berbagai tarian, musik, hingga seni rupa dan pertunjukan. Kita memiliki kekayaan yang seharusnya kuat di dalam negeri dan bisa kita angkat ke dunia internasional,” ujar Ibas.

Tantangan AI, NFT, dan Peran Generasi Muda

Lulusan S3 IPB University ini memperingatkan bahwa arus digitalisasi global—seperti kehadiran Artificial Intelligence (AI), Non-Fungible Token (NFT), dan galeri digital—membawa tantangan sekaligus peluang besar bagi ekosistem seni nasional.

Ia meminta generasi muda tidak sekadar melestarikan, tetapi berinovasi memadukan tradisi klasik dengan teknologi agar seni Indonesia tetap relevan di pasar global.

“Teknologi ini bisa menjadi peluang besar, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan bijaksana,” tegasnya.

Menangkap Aspirasi dan Jeritan Pekerja Seni

Forum audiensi ini juga menjadi ajang dialog interaktif di mana para pelaku seni membeberkan realitas pahit di lapangan. Ibas secara terbuka menerima berbagai masukan krusial, di antaranya:

  • Infrastruktur & Pendanaan: Bayu Genia Chrisby (Galeri Nasional) dan pegiat seni Kathalizsa serta Agung Sentausa menyoroti keterbatasan infrastruktur galeri, minimnya akses pendanaan, dan perlunya pembaruan regulasi ketenagakerjaan kreatif.
  • Dukungan Berkelanjutan: Pradetya Novitri dari Yayasan Titimangsa dan Nyoman Trianawati (pegiat tari tradisional) mendesak kehadiran negara yang lebih kuat dalam memberikan ruang dan sokongan dana jangka panjang.
  • Jaminan Kesejahteraan: Putri Indonesia 2025, Dewi Ratna Ningsih, secara spesifik menekankan mendesaknya jaminan asuransi dan kesejahteraan bagi para pekerja seni yang hingga kini belum merata.

Merespons hal tersebut, Ibas menegaskan bahwa pekerja seni harus dilindungi, baik dari sisi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) maupun kebijakan ekonomi. Fraksi Partai Demokrat di DPR RI, lanjutnya, terus mendorong keberpihakan negara melalui program seperti Dana Indonesiana 2.0.

“Pekerja seni harus mendapatkan perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual dan kebijakan yang berpihak pada mereka, agar mereka bisa mengembangkan karya mereka tanpa khawatir,” kata Anggota DPR Dapil Jatim VII tersebut.

Digitalisasi Museum Nasional dan Bantuan Simbolis

Dalam kesempatan yang sama, Ibas mendorong pengelolaan museum di Indonesia agar keluar dari kesan kuno. Ia menyarankan optimalisasi digitalisasi koleksi, penggunaan video mapping, dan integrasi platform antarmuseum.

Sebagai bentuk komitmen nyata, Ibas menyerahkan bantuan simbolis operasional yang diterima langsung oleh Kepala Museum Nasional, Indira Estiyanti Nurjadin.

Rangkaian acara ditutup dengan tur museum di mana Ibas beserta jajaran anggota Fraksi Demokrat (Marwan Cik Asan, Sabam Sinaga, Iman Adinugraha, dan Anita Jacoba Gah) menjajal fitur interaktif AI “Paras Nusantara”, serta meninjau koleksi bersejarah Arca Bhairawa dan fosil Homo erectus yang baru saja kembali dari Belanda.