New Delhi, Generasi.co — Indonesia tidak hanya membawa misi perdamaian ke pertemuan BRICS, tetapi juga membawa “oleh-oleh” teknologi finansial yang telah terbukti sukses di dalam negeri. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, secara resmi mempromosikan sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai model inovasi digital inklusif di hadapan para Menteri Luar Negeri BRICS di New Delhi, India, Kamis (14/5/2026).
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin transformasi digital di kawasan Global South.
QRIS: Dari ASEAN Menuju Referensi Global BRICS
Menlu Sugiono menegaskan bahwa QRIS bukan sekadar alat bayar, melainkan simbol kemandirian digital nasional yang mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Saat ini, konektivitas pembayaran lintas batas tersebut telah sukses diimplementasikan di beberapa negara ASEAN dan mitra strategis lainnya.
“Indonesia siap untuk berbagi pengalaman kami dengan QRIS, sistem pembayaran digital yang dikembangkan secara nasional, sebagai contoh praktis inovasi digital yang inklusif. QRIS dapat menjadi referensi berharga bagi kerja sama BRICS yang lebih luas di bidang ini,” ujar Sugiono.
Dukung Transaksi Mata Uang Lokal (LCT)
Sejalan dengan visi BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang tertentu, Indonesia menyatakan dukungan penuh terhadap penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam perdagangan antar-negara anggota. Penggunaan QRIS dinilai mampu mempermudah eksekusi teknis dari kebijakan LCT tersebut di lapangan.
Target Gabung Bank BRICS Sebelum Akhir 2026
Selain diplomasi digital, Sugiono membawa kabar penting mengenai integrasi finansial Indonesia. Ia menyatakan bahwa pemerintah tengah berada di tahap akhir untuk bergabung dengan New Development Bank (NDB), bank pembangunan milik blok BRICS.
“Kami sedang memfinalisasi proses internal kami untuk bergabung dengan bank tersebut (NDB) sebelum akhir tahun ini,” tegas Menlu.
Pimpin Tata Kelola AI untuk Negara Berkembang
Terkait pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI), Sugiono memandang BRICS berada di posisi strategis untuk memastikan teknologi ini tidak hanya menguntungkan negara maju. Indonesia mendorong BRICS untuk memimpin pembentukan kerangka kerja global AI yang inklusif dan seimbang, guna menjembatani kesenjangan literasi serta konektivitas digital.










