Wamentan Sudaryono Ajak Warga Sampaikan Kritik, Jangan Pendam Uneg-uneg

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono/IG

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak masyarakat untuk tidak memendam keluhan dan ketidakpuasan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Menurut dia, kritik dan uneg-uneg perlu disampaikan melalui ruang dialog agar dapat dicari solusi bersama.

Pesan itu disampaikan Sudaryono melalui unggahan bertajuk “Bongkar Uneg-uneg Nganti Jejeg” di akun Instagram pribadinya.

Sudaryono mengatakan setiap orang memiliki persoalan dan kegelisahannya masing-masing, mulai dari petani, peneliti, hingga tenaga kesehatan. Karena itu, munculnya rasa tidak puas maupun kritik merupakan hal yang wajar.

“Semua keluhan itu wajar. Sangat wajar. Rasa cinta pada bangsa ini bisa terwujud dalam banyak bentuk. Ada marah, kritik, ada juga diam. Namun, memendam uneg-uneg tidak akan menyelesaikan masalah,” tulisnya.

Menurut Sudaryono, masyarakat membutuhkan forum yang memungkinkan terjadinya dialog, pertukaran gagasan, dan klarifikasi atas berbagai persoalan yang berkembang.

“Kita butuh forum buat berdialog. Tempat untuk bertanya. Tempat kita saling mengonfirmasi kebenaran. Jangan sampai kita merasa paling benar, padahal kita tidak tahu apa-apa,” ujarnya.

Ia mengaku sengaja mendatangi sejumlah daerah dan kampus untuk mendengarkan langsung aspirasi masyarakat. Beberapa lokasi yang dikunjunginya antara lain Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Purwokerto, dan Solo.

“Saya datang ke UGM Yogyakarta buat mendengar. Sebelumnya, saya mampir ke Purwokerto dan Solo buat tujuan serupa. Saya ingin mendengar uneg-uneg warga,” kata Sudaryono.

Ia menegaskan, berbagai pertemuan tersebut bertujuan membuka ruang diskusi yang sehat antara masyarakat dan pemerintah. Menurutnya, persoalan yang dirasakan warga perlu dibicarakan secara terbuka agar tidak berkembang menjadi kesalahpahaman.

“Kalau ada hal kurang pas, mari ditanyakan. Kalau butuh jawaban, mari didiskusikan bersama,” ujarnya.

Sudaryono mengatakan seluruh dialog yang dilakukan bermuara pada tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membantu mereka keluar dari berbagai kesulitan.

“Semua ini bermuara pada satu keinginan bersama. Kita ingin bangsa ini sejahtera. Kita ingin saudara kita lepas kesulitan menuju sejahtera,” katanya.

Di akhir pesannya, Sudaryono mengingatkan pentingnya sikap terbuka dalam berdiskusi. Ia menilai mengakui keterbatasan pengetahuan dan terus belajar jauh lebih baik daripada berpura-pura mengetahui segala hal.

“Lebih baik mengaku tidak tahu lalu belajar, ketimbang berlagak pintar tapi menyesatkan,” tulisnya.