Generasi.co, PARIS – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara Eropa mulai menimbulkan dampak serius, mulai dari lonjakan angka kematian, gangguan pasokan energi, hingga ancaman terhadap perekonomian di kawasan tersebut.
Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan lebih dari 1.000 kematian tambahan sejak 24 Juni 2026 ketika suhu tinggi melanda sebagian besar wilayah negara itu.
“Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang belum dikonsolidasikan) telah diamati dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya,” demikian pernyataan badan tersebut, dikutip AFP, Minggu (28/6).
Sebagian besar korban jiwa merupakan kelompok lanjut usia. Sekitar 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas dan banyak di antaranya meninggal di rumah, terutama di kawasan Ile-de-France yang mencakup Paris.
Otoritas kesehatan Prancis mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan, terutama mereka yang hidup sendiri atau mengalami isolasi sosial.
“Pengamatan ini menjadi pengingat akan perlunya tindakan solidaritas terhadap orang-orang yang terisolasi atau mengalami kesepian yang mendalam, termasuk di daerah-daerah yang sangat urban,” tulis badan kesehatan tersebut.
Di Spanyol, sistem pemantauan kematian MoMo memperkirakan gelombang panas menyebabkan 212 kematian tambahan pada periode 21-24 Juni 2026.
Data tersebut dihitung menggunakan metode excess mortality atau selisih antara jumlah kematian aktual dan angka kematian yang diperkirakan berdasarkan rata-rata sebelumnya. Pada musim panas 2025, Spanyol mencatat 3.832 kematian terkait panas, meningkat 87,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan di berbagai negara Eropa lainnya. Berdasarkan analisis prakiraan cuaca dan proyeksi populasi, sekitar 191 juta orang diperkirakan mengalami suhu minimal 35 derajat Celsius pada Minggu (28/6), sementara sekitar 381 juta orang menghadapi suhu di atas 30 derajat Celsius.
Wilayah yang terdampak meliputi Jerman, Republik Ceko, Hongaria, Polandia, Italia, Austria, hingga Prancis. Jumlah warga yang terdampak di kawasan perkotaan diperkirakan lebih besar akibat efek pulau panas perkotaan.
Gelombang panas turut mengganggu sektor energi. Perusahaan energi Swiss, Axpo, menghentikan sementara operasional dua reaktor di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Beznau karena suhu Sungai Aare yang digunakan sebagai pendingin terus meningkat.
“Suhu air pada Sungai Aare kembali mencapai 25 derajat Celsius kemarin dan hari ini. Kondisi pendinginan yang memadai belum terlihat akan tercapai,” kata Axpo.
Di Prancis, perusahaan listrik EDF juga menutup sejumlah reaktor nuklir untuk mencegah pembuangan air pendingin bersuhu tinggi ke sungai.
Sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipasi. Belanda untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan merah setelah suhu di beberapa wilayah diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius.
“Situasinya berbahaya; ikuti arahan dari pemerintah dan layanan darurat,” demikian peringatan badan meteorologi Belanda, dikutip AFP, Sabtu (25/6).
Pemerintah Belanda meminta masyarakat membatasi perjalanan yang tidak mendesak, sementara operator kereta mengurangi layanan di sejumlah rute.
Sementara itu, gelombang panas juga mulai menggerus perekonomian Jerman. Studi Allianz yang dikutip Deutsche Welle memperkirakan suhu ekstrem dapat menekan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan biaya energi.
Ekonom Allianz, Katharina Utermöhl, memperkirakan kerugian ekonomi Jerman pada 2026 hingga 2030 mencapai sekitar 131 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.353 triliun.
“Jerman harus berhenti menganggap panas sebagai masalah musiman, ini adalah tugas permanen kebijakan ekonomi,” ujar Utermöhl.










