RI Cek Klaim 8 Warga Indonesia Bergabung dengan Militer Rusia

Tentara Rusia/Army University Press

Generasi.co, Jakarta – Pemerintah Indonesia memverifikasi klaim Ukraina mengenai sedikitnya delapan warga Indonesia yang disebut direkrut untuk bertempur bersama pasukan Rusia dalam perang di Ukraina. Informasi tersebut tengah diperiksa melalui perwakilan diplomatik Indonesia dan kementerian terkait.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah masih melakukan pengecekan terhadap informasi yang disampaikan Ukraina. Pemeriksaan mencakup identitas, kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan kedelapan warga tersebut.

“Diperlukan konfirmasi lebih lanjut mengenai identitas, kewarganegaraan, proses perekrutan, dan bentuk keterlibatan mereka,” kata Yvonne seperti dikutip melalui The Moscow Times, Senin.

Klaim tersebut sebelumnya disampaikan Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (SZRU). Pekan lalu, SZRU mempublikasikan salinan tujuh permohonan visa elektronik dan satu kartu migrasi yang disebut milik pria Indonesia yang diduga telah mendaftar di militer Rusia.

SZRU menyebut Indonesia masuk dalam daftar negara yang warganya menjadi sumber perekrutan untuk perang Rusia di Ukraina. Menurut lembaga tersebut, Rusia juga memiliki skema serupa yang melibatkan warga Nepal, Kuba, Kenya, dan India dengan tawaran bayaran tinggi, pekerjaan yang tidak berada di garis depan, serta percepatan memperoleh kewarganegaraan Rusia.

Pemerintah Indonesia juga akan memeriksa kemungkinan kedelapan warga tersebut menjadi korban penipuan lowongan kerja atau perdagangan manusia. Jika ditemukan unsur tersebut, Jakarta akan mengambil langkah untuk memberikan perlindungan kepada mereka.

Sebaliknya, apabila terbukti mereka direkrut secara sukarela, kewarganegaraan mereka dapat dicabut berdasarkan hukum Indonesia.

Yvonne menegaskan tindakan warga negara Indonesia secara individual tidak mencerminkan kebijakan luar negeri Indonesia maupun posisi netral Jakarta dalam perang Ukraina.

Indonesia mempertahankan kebijakan luar negeri netral dan tidak berpihak dalam konflik tersebut. Indonesia juga memiliki hubungan perdagangan bernilai miliaran dolar dengan Rusia, meski impor persenjataan dari negara itu terhenti dalam beberapa tahun terakhir setelah aneksasi Crimea oleh Rusia pada 2014 dan invasi skala penuh ke Ukraina.

Klaim perekrutan warga Indonesia itu muncul menjelang kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Rusia. Kremlin pekan lalu menyatakan Prabowo akan menjadi tamu asing utama dalam Eastern Economic Forum di Vladivostok pada 1-4 September.

Prabowo sebelumnya telah mengunjungi Moskow untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Juli 2024.