Menkop Ajak Muhammadiyah Bangun Koperasi Masjid

Ferry Juliantono Dorong MES Perkuat Koperasi untuk Bangun Ekonomi Berkelanjutan/IG

Generasi.co, SURABAYA – Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong pendirian koperasi masjid di 700 titik yang dikelola Muhammadiyah sebagai proyek percontohan pemberdayaan ekonomi umat. Program tersebut akan menjadi bagian dari kolaborasi pemerintah dengan organisasi Islam untuk memperkuat ekonomi berbasis jamaah.

Dari hampir 12.000 masjid yang dikelola Muhammadiyah, pemerintah akan memulai proyek percontohan di 700 titik. Ferry juga mengajak Syarikat Islam (SI), Nahdlatul Ulama (NU), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) memperkuat kerja sama dalam pengembangan ekonomi umat.

Rencana itu disampaikan Ferry saat menjadi narasumber Dialog Kebangsaan dalam rangkaian Kongres Majelis Tahkim Khusus Syarikat Islam di Wisma Haji Surabaya, Minggu (18/10/2026). Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir turut hadir sebagai pembicara utama.

Ferry, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Syarikat Islam, mengapresiasi peran Muhammadiyah dalam pemberdayaan umat. Ia menilai koperasi memiliki hubungan historis dengan gerakan organisasi Islam di Indonesia.

“Koperasi itu sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari Syarikat Islam, karena Pak Tjokroaminoto tahun 1913 mendirikan Koperasi Setia Budi Utama di Surabaya sebagai prototipe koperasi yang kemudian dikembangkan Bung Hatta,” kata Ferry.

Ferry mengatakan, pengembangan koperasi menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat peran negara dalam melindungi dan memberdayakan masyarakat kecil. Pemerintah ingin mengurangi ketergantungan petani, nelayan, peternak, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap rentenir, tengkulak yang menerapkan sistem ijon, serta pinjaman online ilegal.

Ia menyoroti beban masyarakat akibat tingginya harga sarana produksi dan kebutuhan untuk memperoleh pinjaman dengan bunga tinggi. Menurut Ferry, dampak pinjaman online juga menjangkau kalangan mahasiswa.

“Khusus pinjol, saya mendapat informasi bahwa sekarang rumah sakit jiwa mengalami peningkatan jumlah pasien karena banyaknya korban pinjaman online, dan sekarang sudah merambah ke mahasiswa,” tegasnya.

Berdasarkan evaluasi pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Ferry menyebut keterbatasan infrastruktur dan peralatan pascapanen masih menjadi kendala di tingkat masyarakat. Kebutuhan tersebut mencakup mesin pengering gabah, alat pengatur suhu untuk hortikultura, cold storage, hingga pasokan solar bagi nelayan.

Ia menilai mekanisme pasar bebas tanpa intervensi yang adil selama 30 tahun terakhir turut memarginalkan koperasi. Untuk memperkuat kembali peran koperasi, Kementerian Koperasi melakukan percepatan melalui rebranding, digitalisasi, dan perbaikan tata kelola.

Pemerintah juga menyiapkan jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui pembangunan bertahap sekitar 30.000 bangunan gudang dan gerai di desa dan kelurahan. Infrastruktur tersebut dirancang sebagai pusat ritel sekaligus distribusi produk lokal.

Dalam skema distribusi, barang bersubsidi seperti gas LPG 3 kilogram, pupuk bersubsidi, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), serta minyak goreng akan disalurkan langsung dari produsen ke koperasi dan kelompok tani tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.

Pemerintah juga membangun Kampung Nelayan Merah Putih yang dilengkapi fasilitas cold storage, pabrik es batu, dan SPBU solar khusus nelayan.

Selain itu, pemerintah mengambil alih sekitar 700 ribu hektare kebun sawit tidak berizin melalui Satgas PKH. Lahan tersebut diserahkan kepada Agrinas Palma Nusantara, dengan pengelolaan yang dikerjasamakan bersama koperasi untuk membangun pabrik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) hingga fasilitas pemurnian (refinery) minyak goreng.

Ferry menilai kolaborasi organisasi Islam dengan pemerintah dapat menjadi jalan untuk memperluas pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat sistem ekonomi nasional.

“Ini adalah kesempatan hybrid antara pendekatan masif yang dilakukan organisasi Islam dengan pembukaan akses dari pemerintah untuk mengubah sistem ekonomi kita yang liberal-kapitalistik menjadi sesuai dengan ekonomi konstitusi kita,” pungkas Ferry.