Prabowo Klaim Konsolidasi 250 BUMN Hemat Biaya Rutin Rp50 Triliun

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, pada Minggu, 12 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr

Generasi.co, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyatakan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjadi instrumen utama pemerintah untuk mengonsolidasikan kekayaan negara. Menurutnya, lembaga tersebut kini mengelola aset bernilai lebih dari 1.000 miliar dolar AS sebagai dana kedaulatan untuk mendukung pembangunan jangka panjang.

Prabowo mengatakan pembentukan Danantara membuat aset negara yang sebelumnya tersebar dapat dikelola secara lebih tertib dan terukur sehingga menjadi cadangan kekuatan ekonomi bagi generasi mendatang.

“Danantara adalah suatu dana kedaulatan di mana tabungan-tabungan kekayaan aset-aset negara disatukan, dikonsolidasi, di-manage dengan rapi. Dan ini menjadi cadangan, ini menjadi energi untuk masa depan Indonesia. Untuk anak, cucu, dan cicit kita,” ujar Prabowo saat memberikan taklimat dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7).

Presiden menyebut nilai aset yang dikelola Danantara telah melampaui 1.000 miliar dolar AS. Menurutnya, keberadaan dana kedaulatan tersebut menjadi yang pertama dalam sejarah Indonesia.

“Alhamdulillah, kita untuk pertama kali dalam sejarah kita punya dana kedaulatan ini, Danantara ini yang nilai asetnya bernilai lebih dari seribu miliar dolar. Yang selama ini sering tidak bisa kita pantau. Sering kita tidak mengerti kekayaan kita di mana,” katanya.

Prabowo mengatakan pembentukan Danantara juga diikuti dengan penataan badan usaha milik negara (BUMN). Ia mengungkapkan jumlah BUMN beserta anak, cucu, hingga cicit perusahaan mencapai 1.077 sehingga perlu dilakukan konsolidasi untuk memperbaiki tata kelola.

Presiden mengapresiasi pimpinan Danantara yang telah melakukan penutupan, konsolidasi, dan merger terhadap ratusan BUMN. Hingga akhir Juli 2026, sebanyak 250 BUMN telah ditutup, dikonsolidasikan, atau digabungkan.

“Akhir 31 Juli mereka sudah menutup, mengonsolidasikan, memerger sehingga dari 1077 berkurang 250 BUMN,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan jumlah BUMN dapat berkurang hingga maksimal 350 pada akhir 2026.

Menurut Prabowo, konsolidasi tersebut juga menghasilkan penghematan biaya operasional yang signifikan. Ia menyebut penutupan 250 BUMN telah menghemat biaya rutin atau overhead sebesar Rp50 triliun.

“Dengan ditutupnya 250 BUMN, overhead, biaya rutin yang bisa diselamatkan adalah Rp50 triliun. Gaji direksi, gaji komisaris, sewa gedung, bayar listrik, bayar transpor, bayar ini rapat kerja, Rp50 triliun,” katanya.

Presiden memperkirakan nilai penghematan itu akan terus meningkat hingga akhir tahun seiring berlanjutnya proses penataan BUMN.

“Desember 31 saya kira ini mungkin angka penghematan bisa naik, bisa-bisa bisa mendekati 70-80 triliun. Saya terima kasih dari pimpinan Danantara,” tuturnya.