Generasi.co, Jakarta – Perbedaan cara berkomunikasi antargenerasi menjadi tantangan di tempat kerja, terutama bagi Gen Z yang mulai memasuki dunia kerja ketika pandemi dan sistem kerja jarak jauh mengubah cara orang belajar berkomunikasi secara profesional.
Survei yang dilakukan Censuswide terhadap 2.004 pekerja Amerika Serikat menunjukkan 80 persen dari 1.002 responden Gen Z menganggap perbedaan bahasa antargenerasi di tempat kerja sebagai tantangan. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan responden boomer, yang hanya 30 persen dari 1.002 orang menyatakan hal serupa.
Kesenjangan itu tidak hanya muncul dari istilah slang. Gen Z dan pekerja generasi lebih tua juga memiliki pemahaman berbeda mengenai aturan tidak tertulis dalam komunikasi profesional, termasuk cara menggunakan email dan aplikasi pesan instan. Temuan dan analisis tersebut dilansir melalui Fortune.
Assistant professor sosiolinguistik di Michigan State University, Betsy Sneller, mengatakan salah satu sumber persoalan justru berasal dari hal yang sangat umum digunakan di kantor, yakni email.
“Pekerja muda yang memasuki dunia kerja tidak benar-benar memiliki pemahaman tentang genre email seperti yang dimiliki penutur yang lebih tua,” kata Sneller kepada Fortune.
Menurut Sneller, pekerja yang lebih tua cenderung menganggap email sebagai bentuk komunikasi yang relatif formal dan permanen. Sebaliknya, Microsoft Teams atau platform pesan instan lainnya lebih sering digunakan untuk percakapan singkat.
Gen Z yang tumbuh dengan media sosial dan aplikasi pesan tidak selalu membuat pembedaan yang sama. Mereka bisa saja tidak menggunakan salam pembuka formal atau tanda baca dalam email tanpa menganggapnya sebagai persoalan.
Perbedaan tersebut kemudian dapat menimbulkan penilaian berbeda. Sneller mengatakan gaya yang dianggap santai oleh pekerja muda dapat dipersepsikan sebagai sikap kasar oleh pekerja yang lebih tua.
Dalam linguistik, perbedaan penggunaan bahasa berdasarkan konteks sosial dan lawan bicara dikenal sebagai register. Associate professor linguistik serta analisis sosial dan budaya di New York University, Renée Blake, mengatakan tempat kerja memiliki register tersendiri.
“Kita punya register untuk bekerja, kita punya register untuk rumah,” ujar Blake kepada Fortune.
Menurut Blake, setiap register memiliki aturan yang terbentuk dari kebiasaan. Ketika seseorang menggunakan gaya bahasa yang tidak sesuai dengan konteks, tindakannya dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap aturan komunikasi di ruang tersebut.
Blake mencontohkan pengalaman ketika menerima email dari mahasiswa. Alih-alih menulis sapaan formal seperti “Selamat pagi, Profesor Blake”, mahasiswa terkadang langsung menyapanya dengan “Hai, Renée.”
“Apakah saya temanmu? Saya bukan temanmu, dan kamu tidak mengenal saya,” kata Blake.
Perbedaan itu dapat berpengaruh pada penilaian terhadap profesionalisme. Head of behavioral science di Sunny Workplace, Iain Smith, mengatakan pekerja yang belum memahami bahasa khas tempat kerja dapat dinilai berdasarkan istilah yang mereka gunakan.
“Jika mereka belum mempelajari bahasa khas tempat kerja dan menggunakan ungkapan seperti ‘delulu’ dan ‘rizz’, misalnya, saya kira penilaian terhadap profesionalisme bisa muncul berdasarkan hal tersebut,” kata Smith kepada Fortune.
Perubahan cara belajar berkomunikasi juga terjadi karena Gen Z memasuki dunia kerja saat pandemi mengurangi kesempatan pekerja baru belajar langsung dari rekan yang lebih berpengalaman.
“Mereka sekarang tidak selalu duduk di sebelah seseorang yang sudah melakukan pekerjaan itu selama 20 tahun dan mempelajari jalan pintas, trik, serta cara-cara kecil menghadapi hari yang penuh tekanan,” ujar Smith. “Mereka datang ke Zoom.”
Namun, persoalan tersebut tidak sepenuhnya merupakan masalah Gen Z. Blake mengatakan pandemi turut mengubah kebiasaan komunikasi seluruh generasi.
“COVID juga menghambat kita semua. Ini bukan hanya soal anak muda,” kata Blake.
Pekerja dari berbagai generasi menghabiskan waktu panjang berkomunikasi melalui layar. Sebagian kemudian kembali ke kantor secara terbatas atau tidak sama sekali. Pada saat yang sama, teknologi semakin mengambil porsi besar dalam cara orang berinteraksi.
Blake bahkan mengalami kebingungan serupa ketika memindahkan salah satu kelas kuliahnya ke ruang daring. Ia mengira bisa berkomunikasi lebih informal dengan mahasiswa yang baru dikenalnya. Namun, sebagian mahasiswa justru menganggap pendekatan itu terlalu santai.
“Ini terlalu berlebihan, terlalu informal. Anda tidak mengenal saya,” kata Blake, mengingat respons mahasiswa tersebut.
AI juga mulai digunakan sebagai sarana mempelajari komunikasi profesional. Blake mengatakan ia melihat anak muda memanfaatkan AI untuk mempelajari bentuk komunikasi yang belum tentu mereka dapatkan sebelumnya, termasuk cara menulis surat atau korespondensi formal.
Namun, penggunaan AI untuk tujuan tersebut memiliki konsekuensi. Hasil komunikasi dapat terdengar kaku, berpola, dan tidak personal.
Kesenjangan bahasa juga berlangsung dua arah. Survei tersebut menemukan 76 persen responden boomer tidak mengetahui arti “delulu”, 66 persen tidak mengetahui “rizz”, dan 61 persen tidak mengetahui “no cap”.
Gen Z pun kesulitan memahami istilah korporat yang lebih tua. Hanya 22 persen responden Gen Z mengatakan mereka benar-benar mengetahui arti “boil the ocean”, sementara 25 persen memahami “blue-sky thinking”.
Sunny Workplace, platform nonprofit untuk keterlibatan karyawan, bahkan meluncurkan WorkGen Translation, alat daring yang menerjemahkan slang, idiom, dan jargon tempat kerja antarkelompok usia.
Meski demikian, penelitian tidak menunjukkan bahwa perbedaan antargenerasi di tempat kerja selalu sebesar anggapan umum. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Organizational Behavior menemukan sedikit perbedaan yang sistematis dan bermakna antargenerasi dalam berbagai hasil di tempat kerja.
Smith, yang merupakan seorang milenial, mengatakan generasinya juga pernah menjadi sasaran teori yang menyebut mereka akan mengubah atau bahkan merusak dunia kerja.
“Dari perspektif ilmiah, banyak penelitian menunjukkan bahwa perbedaan generasi dalam nilai kerja, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, stres, burnout, serta preferensi kerja sebenarnya terlalu dibesar-besarkan,” ujar Smith.
Sneller tetap menilai perbedaan gaya komunikasi antara pekerja yang baru memasuki dunia kerja dan mereka yang sudah lebih dahulu berada di dalamnya lebih kentara dibandingkan sebelumnya. Ia mengaitkannya dengan kombinasi media sosial dan pandemi.
Bahkan, Gen Z mulai merasakan posisinya bergeser. Survei Sunny Workplace juga menguji pemahaman responden terhadap slang Gen Alpha.
Sebanyak 41 persen responden Gen Z mengaku tidak mengetahui arti “Ohio”. Sementara 75 persen tidak sepenuhnya memahami atau tidak akan menggunakan istilah “skibidi”.
Dengan demikian, generasi yang kini dianggap perlu memahami bahasa tempat kerja suatu saat dapat berada di posisi yang sama ketika generasi berikutnya memasuki kantor.










