JAKARTA, Generasi.co — Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer gabungan berskala masif ke wilayah Iran pada akhir pekan lalu. Serangan yang disebut sebagai operasi paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir ini secara fatal menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Dilansir melalui Reuters, kematian tokoh sentral Iran tersebut pertama kali diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump yang memantau operasi dari resor Mar-a-Lago di Florida. Kabar ini kemudian diperkuat oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut kompleks kediaman Khamenei telah hancur, dan tak lama berselang, secara resmi dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran.
Langkah ini menjadi pertaruhan kebijakan luar negeri terbesar bagi Donald Trump, mengingat sebelumnya ia kerap mengampanyekan diri sebagai “presiden perdamaian” yang lebih memilih jalur diplomasi.
Melalui pidato State of the Union dan pesan video terbarunya, Presiden Trump secara blak-blakan membeberkan lima tujuan utama di balik agresi militer tersebut:
1. Mendorong Pergantian Rezim (Regime Change) Trump secara terbuka menyerukan kepada rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih kekuasaan dari pemerintah mereka saat ini. “Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda dari generasi ke generasi,” ujar Trump. Ia juga memperingatkan bahwa pengeboman presisi akan terus berlanjut tanpa henti hingga tujuan “perdamaian Timur Tengah” versi AS tercapai.
2. Mencegah Kepemilikan Senjata Nuklir AS dan Israel beralasan bahwa Iran semakin dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir. Meski Trump mengklaim telah “menghancurkan” program nuklir Iran pada Juni lalu, ia menuding Teheran diam-diam berusaha membangunnya kembali. Iran sendiri selama ini bersikeras bahwa pengayaan uranium mereka murni untuk tujuan sipil.
3. Membendung Program Rudal Jarak Jauh Washington menyoroti kemajuan pesat program rudal balistik Iran. Trump menegaskan bahwa rudal jarak jauh Iran kini menjadi ancaman nyata yang bisa menjangkau sekutu AS di Eropa, pangkalan militer AS di luar negeri, dan berpotensi mencapai daratan Amerika.
4. Mengeliminasi Ancaman Jaringan Proksi Serangan ini juga diklaim sebagai bentuk pertahanan diri dari ancaman rezim Iran dan kelompok proksinya di kawasan. Trump mengungkit rentetan konflik masa lalu, mulai dari krisis sandera di Kedubes AS di Teheran (1979), pengeboman barak Marinir AS di Beirut (1983), hingga dukungan finansial dan militer Iran terhadap kelompok Hamas yang melancarkan serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023.
5. Menghukum Rezim atas Pelanggaran HAM Trump menuduh pemerintah Iran telah membunuh “puluhan ribu” warganya sendiri di jalanan selama gelombang protes beberapa bulan terakhir. Sebagai catatan, data korban ini masih menjadi perdebatan. Kelompok pemantau HAM, HRANA, mencatat sekitar 7.007 kematian yang terverifikasi. Sementara itu, sumber resmi Iran menyebut angka di kisaran 5.000 korban, yang 500 di antaranya diklaim sebagai personel keamanan.










