Generasi.co, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau dinamika kepemilikan dan aksi korporasi di sektor perbankan, termasuk rumor akuisisi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam. OJK menyatakan akan menilai setiap transaksi yang berpotensi mengubah pemegang saham pengendali bank sesuai ketentuan yang berlaku.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan perubahan kepemilikan dan pengendalian bank berlangsung secara sehat serta tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas sistem keuangan.
OJK juga memastikan setiap perubahan kepemilikan bank mengikuti prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta ketentuan mengenai kepemilikan dan pengendalian bank.
Dian menjelaskan, perubahan kepemilikan atau pengendalian pada bank besar tidak hanya dinilai dari transaksi saham, tetapi juga dari dampaknya terhadap profil risiko bank, konsentrasi eksposur, transaksi dengan pihak terkait, tata kelola, serta hubungan bank dengan kelompok usaha pemegang saham.
Jika terjadi perubahan pengendalian yang bersifat material, OJK akan mencermati dampaknya terhadap persaingan industri, strategi bisnis, penyaluran kredit, likuiditas, permodalan, tata kelola, dan potensi konsentrasi risiko.
“Secara umum, OJK menilai stabilitas industri perbankan nasional tetap ditopang oleh kondisi permodalan dan likuiditas yang memadai serta penerapan prinsip kehati-hatian,” kata Dian dalam jawaban tertulis di Jakarta, Kamis.
Sebelumnya, BCA membantah rumor mengenai rencana akuisisi saham perseroan oleh Haji Isam yang beredar di media sosial. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn menegaskan informasi tersebut tidak benar.
“Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” kata Hera dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (25/9).
Berdasarkan informasi kepemilikan saham yang disampaikan dalam bahan tersebut, PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) masih menjadi pemegang saham dominan BCA dengan kepemilikan 67,73 miliar saham atau 54,94 persen.
Sementara itu, saham yang tercatat sebagai milik masyarakat mencapai 44,64 persen, terdiri atas 2,51 persen saham masyarakat warkat dan 42,13 persen saham masyarakat nonwarkat.










