Generasi.co, JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sudaryono menegaskan pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp9,95 triliun untuk mendukung peremajaan komoditas perkebunan sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor pertanian nasional.
Pernyataan itu disampaikan Sudaryono saat melantik kepengurusan baru Dewan Pimpinan HKTI Provinsi Bali. Ia mengatakan arahan tersebut merupakan instruksi kepala negara guna memberikan kepastian bagi masa depan sektor pertanian.
“Masa depan pertanian memerlukan kepastian. Kepala negara menginstruksikan pengalokasian dana sebesar Rp9,95 triliun demi peremajaan komoditas perkebunan,” kata Sudaryono, dikutip dari akun Instagram pribadinya, Selasa (14/7/2026).
Sudaryono juga meminta jajaran HKTI di daerah aktif menyampaikan persoalan yang dihadapi petani, terutama terkait kebutuhan bibit maupun alat dan mesin pertanian. Menurutnya, HKTI harus menjadi penyalur aspirasi petani agar bantuan pemerintah pusat dapat tersalurkan secara tepat.
“Bila pengurus wilayah mendapati petani kesulitan memperoleh bibit atau membutuhkan alat mesin tani, segeralah melapor. Organisasi ini bertindak selaku penyalur aspirasi kaum tani agar bantuan pemerintah pusat lekas tersalurkan secara tepat,” ujarnya.
Ia menegaskan wilayah pertanian tidak boleh dibiarkan kekurangan sarana produksi. Kedaulatan pangan, kata dia, dibangun melalui kepastian anggaran kementerian dan percepatan penyaluran bantuan kepada petani di daerah.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga menyoroti besarnya potensi Bali yang dinilai tidak hanya bertumpu pada sektor pariwisata, tetapi juga memiliki kekuatan di bidang pertanian.
Menurutnya, hasil pertanian seperti sayuran segar, beras, kopi, dan kakao perlu terserap oleh industri pariwisata, khususnya hotel dan restoran di Bali.
“Pemerintah pusat mendukung penuh kemauan daerah. Mau fokus hortikultura? Ayo. Ingin kembangkan kakao? Mari kita kerjakan bersama-sama. Bantuan wajib tiba tepat sasaran tanpa potongan,” kata Sudaryono.
Ia menilai kebutuhan pangan sektor pariwisata seharusnya dapat dipenuhi dari produksi lokal sehingga potensi pertanian Bali mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah.










