Jakarta, Generasi.co — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengeluarkan instruksi tegas kepada institusi pendidikan tinggi di Tanah Air. Kepala Negara memerintahkan agar universitas tidak hanya berkutat di balik tembok akademik, tetapi harus ‘turun gunung’ membantu pemerintah daerah (Pemda) merombak tata ruang kota dan menuntaskan krisis perumahan rakyat.
Gebrakan ini terungkap usai Presiden memanggil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto ke Istana Negara, Jakarta, pada Senin (6/4/2026).
Menurut Brian, Presiden secara spesifik menunjuk fakultas yang membidangi perencanaan wilayah untuk langsung berkontribusi di lapangan.
“Pak Presiden memberikan petunjuk, bagaimana Fakultas Planologi dan arsitek di setiap kampus itu bisa membantu kepala-kepala daerah. Sehingga tata ruang, tata kota dari setiap wilayah, kota/kabupaten, itu menjadi tempat prakteknya mahasiswa, tempat penelitiannya dosen-dosen,” ungkap Brian Yuliarto.
Respons Taktis Krisis Permukiman Kumuh
Arahan strategis Prabowo ini lahir bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Presiden mendapati langsung potret ketimpangan sosial saat melakukan blusukan ke kawasan permukiman padat dan kumuh di pinggir rel kereta api kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada Kamis (26/3/2026) lalu.
Merespons kondisi tersebut, Prabowo langsung menekan tombol darurat birokrasi lintas kementerian dan BUMN untuk segera membangun hunian layak bagi warga terdampak.
“Presiden Prabowo langsung memerintahkan Menteri Perumahan melalui telepon, Menteri Pekerjaan Umum, Dirut Perumnas, dan KAI (Kereta Api Indonesia) serta beberapa pejabat terkait untuk membangun rumah hunian bagi warga yang masih tinggal di pinggir rel kereta api,” beber Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Sinergi Riset Kampus dan Kementerian Perumahan
Untuk memastikan program perumahan rakyat ini berjalan efektif dan berkelanjutan, Presiden Prabowo menugaskan kampus untuk menyediakan tulang punggung risetnya.
Universitas-universitas di daerah ditargetkan menjadi motor penggerak Program Kampus Berdampak, di mana hasil kajian akademik langsung diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah tata letak permukiman setempat.
“Pak Presiden memberikan petunjuk bagaimana kampus-kampus melakukan riset, kajian, penanganan permasalahan perumahan. Nanti Bapak Menteri Perumahan, Pak Ara (Maruarar Sirait), akan mengkoordinasikan, kami dari sisi risetnya untuk memudahkan mengatasi masalah perumahan,” pungkas Brian.
Langkah sinkronisasi antara dunia akademik, Pemda, dan kementerian teknis ini menjadi bukti keseriusan pemerintahan Prabowo dalam meretas masalah permukiman kumuh sekaligus menata ulang wajah perkotaan Indonesia yang lebih manusiawi.










