New York, Amerika Serikat — Generasi.co — Di sela-sela padatnya agenda debat Dewan Keamanan PBB di New York, Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono bergerak taktis memanfaatkan momentum untuk memperkuat cengkeraman diplomasi Indonesia. Sugiono menggelar dua pertemuan bilateral maraton bersama Menlu Tiongkok, Wang Yi, dan Menlu Argentina, Pablo Quirno.
Pertemuan tersebut menelurkan sejumlah poin strategis, mulai dari rencana pertemuan pertahanan kakap di Jakarta hingga lobi politik internasional terkait kursi nomor satu di PBB.
Hubungan RI-Tiongkok: Agenda Pertemuan ‘2 Plus 2’ di Jakarta
Pertemuan bilateral dengan Menlu Tiongkok Wang Yi berjalan sangat dinamis. Wang Yi secara resmi mengundang Menlu Sugiono untuk menghadiri KTT APEC yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang.
Selain itu, kedua menlu mematangkan rencana kunjungan Wang Yi ke Jakarta dalam waktu dekat. Kunjungan ini terbilang bersejarah karena akan menandai gelaran perdana dua agenda besar:
- Comprehensive Strategic Dialogue (CSD): Dialog strategis komprehensif pertama antara Indonesia dan Tiongkok.
- Pertemuan ‘2 Plus 2’: Forum tingkat tinggi yang mempertemukan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan dari kedua negara secara simultan, di mana Indonesia kali ini bertindak sebagai tuan rumah.
Tak hanya membahas urusan bilateral, kedua negara juga bertukar pikiran untuk meredam bara konflik yang tengah berkecamuk di kawasan Timur Tengah.
“Kami tadi bertukar pandangan mengenai situasi di Timur Tengah dan menyampaikan ataupun mengusulkan langkah-langkah apa yang mungkin bisa dilakukan Indonesia dalam rangka perdagangan ketegangan mencapai stabilitas dan kedamaian,” ujar Sugiono, Rabu (27/5/2026).
Merangkul Argentina: Intip Peluang Ekonomi dan Lobi Kursi Sekjen PBB
Sebelum bersua dengan delegasi Tiongkok, Menlu Sugiono terlebih dahulu mengadakan pertemuan hangat dengan Menlu Argentina, Pablo Quirno. Dalam kesempatan ini, Quirno memaparkan peta jalan reformasi politik dan upaya pemulihan ekonomi yang tengah bergulir di negerinya demi menjajaki peluang kerja sama yang lebih erat dengan Indonesia.
Namun, agenda yang tidak kalah mencuri perhatian adalah manuver diplomasi Argentina yang meminta dukungan Indonesia terkait bursa pencalonan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB. Argentina diketahui tengah menjagokan Rafael Grossi sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin organisasi dunia tersebut.
Menanggapi lobi dari Buenos Aires tersebut, Menlu Sugiono memberikan jawaban diplomatis yang elegan dan berprinsip.
“Tentu saja tadi kami juga menyampaikan bahwa kita ingin satu United Nations (PBB) yang kuat, yang bisa mewakili kepentingan semuanya. Dan jika ada kandidat yang bisa menawarkan dan memastikan bahwa PBB akan bisa menjalankan fungsi ini (tentu terbuka),” tegas Sugiono.
Langkah lincah Menlu Sugiono di New York ini kembali menegaskan posisi Indonesia yang konsisten menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif—fleksibel merangkul kekuatan ekonomi baru Amerika Latin, sekaligus tetap kokoh menjaga kemitraan strategis di Asia.










